Daftar Isi [Tampil]



LOMBOK TIMUR
, Radarselaparang.com - Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) H.Daeng Paelori (HDP), tutup acara budaya perisaian tandur Belo Desa Pesanggrahan, Kecamatan Montong Gading. Senin (22/8/2022)

Kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari itu berlangsung dengan meriah dan tidak pernah sepi pengunjung, apalagi hari ini merupakan pertandingan puncak, tidak kurang dari seribu penonton tumpah memenuhi area pertempuran pepadu, itu dikarenakan penonton tanpa dipungut biaya karcis masuk oleh panitia penyelenggara.

Para pepadu (pendekar) yang hadir juga dari berbagai desa di luar kecamatan Montong Gading, banyak dari paguyuban dengan menurunkan pepadu yang pemula sampai yang kawakan,.seperti Paguyuban Lima Pepadu, paguyuban Pringgasela, Panji Anom, payuguban Panji pager Sasak.

Pepadu Penjalin menyampaikan disela pertarungan pepadu bahwa penyelenggaraan budaya perisaian gratis (tanpa komersil) berkat dukungan dari Haji Daeng Paelori, beliau berkeinginan agar perisaian dilakukan tanpa karcis masuk, agar semua lapisan masyarakat bisa menikmati tontonan budaya ini dengan bebas.

Sementara itu, Alif pepadu dari paguyuban Panji Anom, sesaat usai Ia berlaga ditanya oleh tim radarselaparang.com, mengatakan tidak menyangka pertandingan ini dilakukan tanpa karcis masuk, tapi pemberian dari panitia tanda jalinan kasih tidak kurang dari yang diberikan oleh penyelenggara yang berkarcis, "malah ini lebih banyak," ungkapnya.


Alif juga tidak menyangka ada unsur pimpinan Anggota DPRD Lombok timur ada ditengah tengah mereka. Ia harapannya pada pak Daeng Paelori, kiranya pentandingan ini diadakan tiap tahun, dan ada tingkatan seperti tingkat SMA, seperti saya ini, jangan hanya olahraga seperti sepak bola dan yang lain di pertandingan dan ada tingkatannya, tapi ini budaya asli tidak dipertandingkan minimal tingkat kabupaten antar pelajar.

"Terimakasih pada pak HDP, sudah mau memberikan kesempatan pada pada kami untuk menyalurkan hobi dengan diselenggarakan secara gratis pula sehingga semua masyarakat dan keluarga saya ikut nonton," tutupnya.

Suhir selaku opisial dari pepadu juga menyampaikan hal yang sama, berharap budaya perisaian ini tetap diselenggarakan tiap tahun dan dalam konsep yang sama tanpa ada pungutan karcis agar bisa dinikmati secara bebas oleh masyarakat sekitar.


Dipertengahan pertandingan, Daeng Paelori ditengah ribuan penonton petandingan pepadu, menyampaikan bahwa pepadu yang sejati itu papadu yang hormat, tunduk, dan tidak bertindak rusuh, dan menjunjung tinggi sportifitas. Ia juga di daulat untuk ikut tanding melawan pepadu untuk merasakan sensi penjalin (rotan).

"kita berupaya budaya perisaean ini tetap diselenggarakan secara terjadwal dengan kalender wisata, yang paling utama diselenggarakan tetap secara gratis tanpa dikomersialkan agar masyarakat bisa menikmati budayanya,"tegas Wakil Ketua DPRD Lotim itu.

"Dengan mengucap Alhamdulillahirobbil Al-Amin, acara budaya perisaian ini resmi ditutup,"pungkasnya seraya diikuti tepuk tangan penonton.


Sementara itu, Ketua DPW Satria kita Pancasila NTB, Kamrul Ahzan mengungkapkan; Lebih dari 32 tahun tidak pernah terjadi kegiatan budaya perisaian ini di Montong Betok, apalagi yang tidak dikomersilkan sama sekali.

"pernah sekali terjadi dikomersilkan, ramai tapi ujungnya pihak penyelenggara tutup buku (bangkrut,red)," tuturnya. 

Lebih lanjut, Ahzan yang juga sebagai ketua panitia penyelenggara merasa bersyukur, dengan dukungan dari bang HDP, budaya perisaian tanpa dikomersilkan ini bisa berjalan, mampu membangkitkan hazanah budaya Lombok asli agar tetap bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, kita tidak ingin sama nasip budaya kita ini seperti wayang yang jarang ditampilkan, sehingga ada generasi kita tidak pernah melihat itu.

"Terimakasih pada bang HDP yang peduli terhadap budaya asli Lombok ini, beliau tidak ingin budaya asli kita ditelan oleh zaman karena semua harus dikomersilkan," tutupnya.

Hazbullah anggota PKM montong betok yang bertugas sebagai tim Medis, juga merasa senang  bisa ikut sebagai bagian kegiatan ini, Ia jujur mengatakan baru kali ini melihat secara langsung budaya perisaian, setiap hari dirinya datang untuk memberikan pertolongan pada pepadu yang kena cidera luka.

Dipenghujung acara yang berakhir pukul 17.150 wita, dengan dilakukan seremonial pemberian cindera mata berupa baju dan hadiah berupa uang sebagai penyemangat pada para pepadu yang tampil oleh Daeng Paelori. (RS/Dipa)