![]() |
| Kepala Dinas PTSP Lombok Timur, Husnul Basri |
Kepala Dinas PTSP Lombok Timur, Husnul Basri, mengungkapkan bahwa dominasi usaha mikro dan kecil (UMK) sangat kentara dalam angka-angka ini. Sebanyak 99,8% dari NIB yang diterbitkan didominasi oleh UMK.
"Hal ini menunjukkan bahwa geliat ekonomi di Lombok Timur sangat digerakkan oleh para pelaku usaha kecil," jelas Basri, pada Rabu (13/8).
Lonjakan NIB ini beriringan dengan masuknya investasi yang substansial. Tercatat, hingga pertengahan Agustus 2025, rencana investasi di Lombok Timur telah mencapai angka fantastis, yakni Rp1,3 triliun. Dampak positifnya langsung terasa pada penyerapan tenaga kerja. Dari berbagai kegiatan yang diajukan, sebanyak 28.603 tenaga kerja baru diproyeksikan akan terserap.
"Data ini menunjukkan bahwa perizinan berusaha berbasis risiko yang kita terapkan berhasil menarik minat investor dan membuka lapangan kerja," tambah Basri.
Berdasarkan data yang di-review oleh Dinas PTSP, kegiatan usaha dengan risiko rendah mendominasi dengan porsi 71,4%. Sementara itu, kegiatan dengan risiko rendah menengah menempati 11,6%, risiko menengah tinggi 12%, dan risiko tinggi hanya 4,8%.
Dikatakan sektor yang paling banyak diminati adalah Industri Makanan Ringan: Industri kerupuk, keripik, peyek, dan sejenisnya menjadi yang paling banyak, Perdagangan Eceran: Perdagangan berbagai macam barang, terutama makanan dan minuman, menempati urutan kedua Industri Kue: Industri pembuatan roti dan kue berada di posisi ketiga Kedai Makanan: Usaha kedai makan juga cukup banyak diminati.
Sementara itu, persebaran proyek per kecamatan menunjukkan Kecamatan Selong berada di posisi teratas dengan 1.046 proyek (11,6%), disusul oleh Masbagik dengan 954 proyek (10,6%), dan Pringgabaya dengan 893 proyek (9,9%).
"Data ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat di Lombok Timur, didorong oleh partisipasi aktif masyarakat dalam sektor UMK dan perizinan yang semakin mudah," pungkasnya. (RS)


