Lombok Timur - Radarselaparang.com || Suasana di halaman Kantor Bupati Lombok Timur mendadak cair. Di tengah riuh aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Peduli Pariwisata Lombok Timur (Lotim), Sekretaris Daerah (Sekda) H. Muhammad Juaini Taofik temui massa aksi dengan memilih cara persuasif dengan mengajak duduk lesehan untuk berdialog secara terbuka. Selasa (20/01/2026).
Sekda Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik temui massa aksi dengan memilih cara persuasif dengan mengajak duduk lesehan untuk berdialog secara terbuka.
Meski berlangsung santai secara formalitas, dialog tersebut berlangsung tajam saat membahas isu sensitif mengenai tata kelola pariwisata daerah.
Salah satu poin paling krusial dalam aksi tersebut adalah sorotan mahasiswa terhadap kontrak pengelolaan Sunrise Land Lombok (SLL). Menanggapi hal ini, Sekda Juaini Taofik menegaskan bahwa kebijakan tersebut murni bersifat birokratis dan profesional.
Sekda Juaini menepis spekulasi yang menyeret nama mantan pejabat daerah dalam pusaran kontrak tersebut. Dikatakan ini tidak ada urusan pribadi antara Bupati Lombok timur H. Haerul Warisin dengan kejadian yang kaitannya dengan SLL.Ia menjelaskan bahwa seluruh pertanggungjawaban dan kewenangan operasional berada sepenuhnya di bawah kendali Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, yakni Dinas Pariwisata.
"Semua ini murni dalam kebijakan formal," tegas Sekda di hadapan para massa aksi mahasiswa.
Menanggapi tuntutan mahasiswa, Sekda mengungkapkan bahwa pemerintah daerah sebenarnya sudah bergerak. Menurutnya, Bupati Lombok Timur telah menyerap sebagian besar poin yang dikeluhkan, meski realisasinya masih membutuhkan waktu.
“Apa yang saya tangkap dari aspirasi adik-adik tadi, memang belum semuanya dapat dipenuhi. Namun, sebenarnya sebagian besar sudah dipenuhi Bapak Bupati, tinggal menunggu eksekusi saja,” jelas Sekda Juaini dengan nada optimistis.
Selain isu SLL, Sekda Juaini juga memastikan bahwa Lombok Timur tetap menjadi daerah yang inklusif bagi kaum intelektual. Ia menegaskan tidak akan ada pembatasan bagi mahasiswa yang ingin menjadikan lokasi wisata sebagai lokus penelitian maupun pengabdian masyarakat.
Sebagai bentuk keseriusan dalam menjaga komunikasi, Sekda Juaini bahkan memberikan "kartu hijau" bagi para mahasiswa untuk menemuinya langsung di ruang kerja guna diskusi lebih lanjut.
"Kami persilakan, kalau adik-adik besok lusa mau ke ruangan saya, ya silakan," pungkasnya menutup dialog dengan massa aksi. (rs)


