![]() |
| Anggota DPR RI dari Komisi VIII, Apt. Hj. Lale Syifaunnufus, M.Farm |
Langkah intensif ini telah dimulai sejak akhir Desember 2025 di berbagai titik strategis dan dipastikan akan semakin digencarkan memasuki bulan suci Ramadhan tahun ini.
Fokus utama sosialisasi ini menyasar kalangan santri di pondok pesantren dan tokoh masyarakat. Menurut Lale Syifa, pesantren adalah benteng pertahanan karakter generasi muda.
"Para santri kami bekali pemahaman mengenai NKRI dan UUD 1945 agar mereka dapat menjadi ‘Duta Kedamaian’ atau agen pendingin suasana saat kembali ke masyarakat atau melakukan pengabdian dakwah nanti," ujar Lale Syifa kepada media pada Rabu (04/02/2026).
Ia menekankan bahwa pemahaman moderasi beragama (Wasathiyah) sangat krusial untuk mencegah masuknya paham radikal yang kerap memanfaatkan momen euforia keagamaan untuk memecah belah masyarakat.Selain penguatan ideologi, kegiatan ini berfungsi sebagai filter sosial. Lale Syifa mengingatkan agar mimbar-mimbar agama tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik praktis yang memicu polarisasi.
"Pendidikan karakter melalui Empat Pilar adalah benteng ideologi. Kita ingin santri tetap teguh pada komitmen kebangsaan meskipun diterpa isu-isu yang memicu perpecahan," tambah Lale Syifa.
Jejak Sosialisasi di Empat Kabupaten
Rangkaian kegiatan ini menjangkau pelosok Pulau Lombok, meliputi Lombok Timur terpusat di Ponpes Saggafussalih NW Lenek Dua Gelumpang dan Ponpes Ziadatussyakirin NW Sikur, Lombok Utara bertempat di kediaman tokoh masyarakat Dusun Kertaraharja (Desa Ganggelang) dan Ponpes Syaikh Zainuddin NW Tanjung, Lombok Tengah dilaksanakan di Ponpes Nurul Wahyi NW Mujur dan Ponpes Hidayatul Ummah NW Bagek Nunggal, dan Lombok Barat menjangkau MTs Rahmatullah Al Hasan NW Kekait, Kecamatan Gunungsari.
"Harmoni sosial sesuai ajaran Bhinneka Tunggal Ika tetap terjaga di tengah masyarakat NTB, menjadikan Pancasila sebagai titik temu (kalimatun sawa) yang menyatukan seluruh elemen bangsa," harap Lale Syifa. (rs)


