LOMBOK TIMUR - Radarselaparang.com || Di bawah kemegahan Gunung Rinjani, sebuah revolusi hijau yang tenang tengah berlangsung. Para pemuda dan petani milenial di Sembalun kini mulai mengalihkan pandangan mereka dari dominasi bawang putih dan sayur-mayur menuju komoditas yang lebih menjanjikan yakni Kopi Arabika.
Kopi, yang kini dijuluki sebagai "emas hitam", menawarkan stabilitas ekonomi yang selama ini diimpikan para petani di lahan-lahan kering Sembalun.
Langkah ini bukan sekadar tren, melainkan strategi jitu menghadapi ketidakpastian harga sayuran. Kopi, yang kini dijuluki sebagai "emas hitam", menawarkan stabilitas ekonomi yang selama ini diimpikan para petani di lahan-lahan kering Sembalun.
Rusmala, seorang penggiat kopi lokal, mengungkapkan bahwa kopi telah bertransformasi dari sekadar buah menjadi gaya hidup. Seiring pesatnya pariwisata di Sembalun, permintaan kopi melonjak tajam tanpa penurunan harga yang berarti dalam empat tahun terakhir.
"Harga green bean stabil di angka Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Kopi bukan lagi sekadar oleh-oleh, tapi sudah jadi gaya hidup keren," ujar Rusmala, Selasa (17/02/2026).
Untuk menyiasati lahan subur yang kian terkuras oleh hortikultura, para petani kini beralih ke varietas Ateng Super. Varietas ini dinilai jauh lebih produktif dibandingkan Typica (varietas lokal lama), terutama saat ditanam di ketinggian di atas 1.000 mdpl yang memberikan karakter rasa unik.
Metode penanaman pun mengalami pembaruan teknik. Neli Pujiawan, petani milenial yang telah terjun sejak 2017, membeberkan rahasia efektivitas Sistem Tanam Pagar. Kapasitas 1 Hektar bisa menampung lebih dari 4.000 pohon, Produksi Potensi mencapai 2 ton per hektar, Pendapatan dengan harga pasar saat ini, pendapatan bisa menyentuh Rp500 juta per hektar, dan Keunggulan perawatan jauh lebih minim dan efisien dibandingkan tanaman sayuran.
Meski potensi cuannya menggiurkan, jalan menuju pasar internasional masih berbatu. Neli mengeluhkan tingginya biaya logistik dan perizinan ekspor yang bisa mencapai Rp160 ribu per kilogram—angka yang bahkan melampaui harga beli kopi itu sendiri.
Selain akses pasar, Rusmala juga melontarkan kritik terhadap fokus penyuluhan lapangan (PPL) yang dianggap terlalu condong ke sektor sayuran. Ia mendesak pemerintah untuk mulai melirik petani kopi di empat desa kunci, yakni Sembalun Bumbung, Sembalun Lawang, Sembalun Timba Gading, dan Desa Sembalun.
Bagi para pemuda ini, menanam kopi adalah investasi masa depan. Optimisme mereka kini tertuang dalam persiapan pembibitan besar-besaran untuk musim tanam 2027.
"Potensi kopi ini menjanjikan untuk 5 hingga 20 tahun ke depan. Kami ingin mengembalikan kejayaan sejarah kopi Arabika Sembalun puluhan tahun silam," pungkas Rusmala dengan penuh keyakinan.
Transformasi dari sayur ke kopi ini tidak hanya menjanjikan pundi-pundi rupiah yang lebih terukur, tetapi juga memberikan ruang bagi petani untuk memiliki waktu luang dan masa depan yang lebih berkelanjutan. (rs)

