![]() |
| Menu MBG untuk siswa yang disajikan SPPG MBG Al Faqih Rinjani Anjani Barat di duga tidak sesuai harga ketentuan. |
Berdasarkan pantauan di lapangan, muncul dugaan adanya konspirasi sistematis antara Kepala SPPG, Mitra Pemilik Dapur, Akuntan, hingga Ahli Gizi untuk meraup keuntungan pribadi dengan cara memangkas kualitas makanan penerima manfaat.
Data yang dihimpun menunjukkan adanya selisih harga yang mencolok pada paket menu hari Rabu hingga Sabtu (25-28 Februari 2026). Sesuai aturan BGN, harga per porsi adalah Rp8.000 (kecil) dan Rp10.000 (besar).
![]() |
| Menu untuk 2 hari SPPG) MBG Al Faqih Rinjani Anjani Barat. |
"Menunya sangat menonton dan mengecewakan. Bayangkan, untuk buka puasa anak sekolah hanya diberi roti kering, kurma sedikit, dan susu kecil. Ini jauh dari takaran gizi yang dijanjikan," ungkap salah satu wali murid dengan nada geram.
Tak hanya masalah harga, SPPG MBG Al Faqih Rinjani Anjani Barat juga nekat melakukan sistem rapel atau penggabungan menu dalam satu waktu pengiriman tanpa meminta persetujuan penerima manfaat. Langkah ini diduga sengaja dilakukan untuk memangkas biaya operasional dan hari kerja, padahal gaji pengelola tetap dibayar penuh oleh negara.
Koordinator Wilayah (Korwil) MBG Lombok Timur, Agamawan, saat dikonfirmasi menegaskan bahwa jika masyarakat menilai ada keuntungan tidak wajar (bati), maka SPPG wajib memberikan penjelasan transparan.
"Sppg harus memberikan penjelasan ke penerima manfaat sebagai bentuk tanggung jawab," tegas Agamawan, pada Jumat (27/02/2026).
Kekecewaan ini tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga para guru. Bahkan, dikabarkan sejumlah sekolah juga berencana melayangkan surat penolakan resmi kepada SPPG MBG Al Faqih Rinjani Anjani Barat karena kualitas makanan yang dianggap tidak layak dan tidak sesuai standar kesehatan.
Kepala SPPG MBG Al Faqih Rinjani Anjani Barat, Abdullah Masrura menyampaikan Saat dikonfirmasi memberikan alasan yang terkesan mengelak. Ia berdalih bahwa sistem rapel dilakukan karena stok barang yang terbatas (limit) dan harga bahan kering yang sedang melonjak. Juga itu atas kesepakatan SPPG Kecamatan Suralaga atas saran Koordinator Kecamatan.
Padahal kenyataannya dilapangan ada SPPG MBG di kecamatan tersebut rutin mengantar MBG ke sekolah setiap hari (tidak melakukan rapel) seperti yang dikatakan ada kesepakatan tersebut.
"Kalau kita pakai per hari itu, itemnya sulit dan harganya otomatis semakin mahal. Karena bahan kering lagi naik semua, maka kami antisipasi dengan sistem rapel," dalihnya saat dikonfirmasi. Ia juga terkesan defensif saat ditanya mengenai pengawasan dari pihak wali murid. (rs)



