Daftar Isi [Tampil]

Kondisi rumah Kardi warga Dusun Mekar Mulya, Dasan Tinggi, Kecamatan Sambelia, jauh dari kata layak dan butuh perhatian para pemangku kebijakan.
Lombok Timur - Radarselaparang.com || Di tengah riuh rendah penyaluran berbagai program pengentasan kemiskinan dan bedah rumah, sebuah potret pilu tersisa di Dusun Mekar Mulya, Dasan Tinggi, Kecamatan Sambelia. Adalah keluarga Kardi, yang selama 17 tahun membina rumah tangga, namun hingga kini impian untuk memiliki hunian layak huni masih sebatas mimpi yang jauh di pelupuk mata.

Perjalanan hidup Kardi adalah potret perjuangan keras seorang kepala keluarga. Belasan tahun ia melakoni pekerjaan apa saja di kampung halaman, mulai dari buruh serabutan hingga memeras keringat di ladang orang. Namun, penghasilan yang pas-pasan hanya cukup untuk menyambung nyawa, bukan untuk merenovasi rumah yang kian dimakan usia.

Lima tahun lalu, dengan berat hati, Kardi mengambil keputusan besar. Ia memilih "membuang diri" menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia. Harapannya satu mengubah nasib ekonomi dan membangun rumah idaman bagi anak dan istrinya.
Namun, kenyataan di negeri jiran tak seindah bayangan. Lima tahun merantau, kondisi rumahnya di Sambelia masih tetap sama.

"Gajinya di sana tidak sesuai harapan. Alih-alih membangun rumah, untuk kebutuhan sehari-hari saja masih sulit," ungkap sebuah sumber keluarga.

Ironi menyelimuti kisah keluarga ini. Di saat pemerintah desa, kabupaten, provinsi, hingga pusat gencar mempromosikan program penanggulangan rumah tidak layak huni (RTLH), rumah Kardi seolah luput dari radar para pemangku kebijakan.

Pertanyaan besar pun muncul, Ke mana aliran dana bantuan rumah kumuh dari Desa, Kabupaten, maupun Baznas? Mengapa keluarga yang jelas-jelas sangat membutuhkan ini tidak pernah sekalipun dilirik oleh para pemangku kebijakan?

Kondisi terkini rumah Kardi yang tidak layak huni.
Di rumah yang kini kian rapuh itu, istri Kardi tetap setia menunggu. Di tengah keterbatasan, ia hanya bisa bersandar pada doa dan kesabaran. Baginya, setiap ketukan pintu adalah harapan, barangkali ada petugas desa atau relawan yang datang membawa kabar baik tentang perbaikan rumah mereka.

"Istrinya selalu sabar, sambil terus berdoa semoga ada keajaiban suatu saat nanti. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah atau dermawan yang tergerak hatinya," tambah warga setempat.

Kisah Kardi adalah tamparan bagi birokrasi penyaluran bantuan sosial di Lombok Timur. Diperlukan verifikasi faktual yang lebih tajam ke bawah agar bantuan tepat sasaran dan tidak ada lagi warga seperti Kardi yang "terlupakan" di tengah hiruk-pikuk program pemerintah. (rs/acip)