Daftar Isi [Tampil]

Wakil Ketua IV Baznas NTB, TGH. Ahmad Rusli, S.Ag bersama Muhammad. Munir Fauzi, M.Pd., Kabag Pendistribusian Baznas Lombok Timur usai menghadiri Nuzulul Quran di Masjid Jami' Hubbul Wathan Desa Dasan Boro’, Kecamatan Suralaga.
LOMBOK TIMUR - Radarselaparang.com || Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi NTB terus memperkuat kehadirannya di tengah masyarakat melalui pola distribusi yang lebih agresif dan terukur. Di bawah kepengurusan baru, lembaga ini tidak lagi sekadar menunggu bola di kantor, melainkan aktif turun ke desa-desa untuk memastikan setiap bantuan tepat sasaran dan mampu mengubah taraf hidup penerimanya.

Wakil Ketua IV Baznas NTB, TGH. Ahmad Rusli, S.Ag., mengungkapkan bahwa mobilitas tinggi menjadi kunci utama pelayanan saat ini. Sejak dilantik, jajarannya lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan guna merespons kebutuhan masyarakat secara langsung.
Voucher Bantuan dan Strategi "Jemput Bola"

Dalam setiap kunjungan atau undangan acara keagamaan, Baznas NTB kini membawa sistem "Voucher" bantuan. Hal ini dilakukan agar setiap titik yang dikunjungi tidak terlewati, terutama selama bulan suci Ramadan.

"Setiap undangan seperti ini, kita selalu bawa voucher. Dengan begitu, kita bisa langsung bertemu masyarakat dan memberikan solusi instan bagi yang membutuhkan bantuan konsumsi atau operasional lembaga keagamaan. Kita ingin memastikan tidak ada titik yang terlewati," ujar TGH. Ahmad Rusli, usai menghadiri Nuzulul Quran di Masjid Jami' Hubbul Wathan Desa Dasan Boro’, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, pada Selasa (10/3/2026).

Salah satu visi besar yang ditekankan adalah program pemberdayaan ekonomi. Baznas NTB tidak ingin bantuan hanya bersifat konsumtif, melainkan produktif. Melalui program pendampingan 106 Desa Berdaya, Baznas bersama pemerintah provinsi NTB fokus mengangkat potensi daerah.

"Tujuannya jelas, bagaimana kita merubah masyarakat yang tadinya Mustahik (penerima zakat) menjadi Muzakki (pembayar zakat). Minimal mereka bisa berinfak Rp1.000 saja tahun depan, itu sudah menunjukkan mereka keluar dari jerat kesulitan," tambahnya.

Program unggulan yang sedang berjalan mencakup pemberian modal usaha bagi 20 UMKM di setiap kabupaten/kota. Jika berhasil, jumlah ini akan terus dikembangkan hingga mencapai 40-50 titik per wilayah.

Sepanjang tahun 2025, Baznas NTB berhasil menyalurkan dana sebesar Rp54 miliar. Untuk tahun 2026, target ambisius sebesar Rp60 miliar optimis dapat tercapai. Keyakinan ini didukung oleh penguatan regulasi, termasuk sinergi dengan pihak ketiga dan perusahaan melalui dana CSR atau Zakat Perusahaan.


Beberapa poin strategis yang sedang digarap antara lain:
1. Zakat Perusahaan: Mencontoh Bank NTB Syariah yang menyumbangkan zakat perusahaan sebesar Rp7,2 miliar untuk program rumah layak huni (RLH) dan bantuan gerobak UMKM.

2. Rumah Layak Huni: Baznas menargetkan pembangunan sedikitnya 20 rumah baru (bukan sekadar renovasi) di setiap kabupaten/kota setiap tahunnya.

3. Regulasi Pihak Ketiga: Adanya estimasi kontribusi 10% dari keuntungan pihak ketiga yang memenangkan proyek daerah untuk dialokasikan pada kemaslahatan umat.

TGH. Ahmad Rusli mengakui bahwa meski capaian saat ini luar biasa, potensi zakat di NTB sebenarnya bisa menyentuh angka Rp1,2 triliun. Sayangnya, saat ini serapan zakat baru mencapai sebagian besar bersumber dari ASN.

Melalui pendekatan yang lebih modern, transparan, dan terjun langsung ke akar rumput, Baznas NTB optimis dapat menjadi motor penggerak utama dalam pengentasan kemiskinan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Potensi dari sektor pertambangan dan perusahaan besar lainnya sangat luar biasa. Kami berharap melalui mediasi Pak Gubernur, perusahaan-perusahaan ini bisa mengarahkan zakat atau CSR-nya melalui Baznas agar bisa kita 'keroyok' bersama untuk membantu masyarakat yang membutuhkan modal atau rumah layak," tutupnya. (rs)