![]() |
| Pimpinan Majelis Dzikir Al Husnul Mani', TGH M. Jamiluddin Syahid Al Yazidi dan Gubernur NTB, L. Muhammad Iqbal. |
Acara ini terasa kian istimewa dengan kehadiran Gubernur NTB, L. Muhammad Iqbal, yang secara terbuka mengakui adanya ikatan batin atau chemistry yang kuat dengan majelis ini.
Pimpinan Majelis Dzikir Al Husnul Mani', TGH M. Jamiluddin Syahid Al Yazidi, menegaskan bahwa fokus utama majelis ini adalah membina karakter umat agar memiliki sifat sabar dan syukur dalam menghadapi cobaan hidup. Menurutnya, menghidupkan iman dan takwa adalah fondasi utama untuk mendukung kemajuan daerah.
TGH Jamiluddin juga menyoroti peran strategis majelis dalam membantu program pemerintah, khususnya dalam pengentasan kemiskinan melalui pendekatan spiritual.
"Pemerintah mengentaskan kemiskinan dengan ikhtiar zahiriyah (fisik). Kami mendukung melalui jalur rohani. Allah dan Rasul-Nya sudah berjanji, kemiskinan bisa selesai jika masyarakat rajin beristighfar dan berzikir. Kami ingin masyarakat bisa menerima perbedaan dan bersatu dalam zikir," ungkap TGH Jamiluddin dengan penuh optimisme.
Kedekatan Emosional Gubernur Iqbal
Gubernur NTB, L. Muhammad Iqbal, dalam sambutannya membagikan kisah personal yang menyentuh hati. Ia mengenang masa-masa saat dirinya berkeliling menemui puluhan Tuan Guru, namun hatinya merasa benar-benar "nyangkut" ketika sampai di Pancor Manis.
“Ada rasa tenang kalau mengobrol dengan beliau (TGH Jamiluddin). Beliau jauh dari ghibah, tidak pernah membicarakan orang. Inilah kebersihan hati yang ingin kita contoh,” puji Gubernur Iqbal.
Ia menambahkan bahwa di tengah krisis dunia saat ini, kejernihan hati dan pikiran yang didapat melalui majelis-majelis zikir adalah modal utama bagi pemimpin dan masyarakat untuk tetap tegak berdiri.Sinergi Membangun NTB yang Makmur
Majelis Dzikir Al Husnul Mani' menyatakan kesiapannya untuk menyukseskan visi Pemerintah Provinsi NTB, terutama cita-cita Gubernur Iqbal untuk menjadikan NTB "Makmur Mendunia". Sinergi ini akan diwujudkan melalui bidang pendidikan dan pembinaan kerohanian.
Di usianya yang ke-26, majelis ini diharapkan semakin inklusif dan diterima oleh semua kalangan masyarakat sebagai wadah pembersihan hati. Dengan hati yang jernih, diharapkan masyarakat NTB mampu melewati kesulitan ekonomi dan sosial demi kehidupan yang lebih layak dan diberkahi. (rs)



