![]() |
| Bripka Agus Salim bersama H. Suroto Kadis tenaga kerja (mantan kadis sosial) saat mengurus jenazah korban |
Kisah ini bermula pada Kamis sore (19/03/2026), sekitar pukul 17.00 WITA. Seorang pria paruh baya bernama Abdul Rahim melangkah tertatih ke Mapolsek Pringgabaya dengan bantuan sebatang tongkat bambu. Kepada petugas piket, ia hanya merintih pelan, "Saya sakit, Pak."
Betapa terkejutnya Bripka Agus saat pria tersebut membuka sarungnya. Tubuh Abdul Rahim melepuh hebat akibat tersiram kuah bakso panas saat berjualan di Dusun Semaya seminggu sebelumnya. Tanpa keluarga di Lombok dan telah bercerai dengan istrinya di Jawa, Abdul Rahim tak punya tempat mengadu.
Melihat kondisi luka yang mulai infeksi, Bripka Agus segera memanggil ambulans Puskesmas Peringgabaya. Namun, luka yang parah membuat pasien harus dirujuk ke RSUD Soedjono Selong. Di sinilah dilema muncul: Siapa yang akan menjaga dan bertanggung jawab di rumah sakit?
Tanpa ragu, Bripka Agus mengambil keputusan besar. "Saya yang menjadi penanggung jawabnya," tegasnya kepada petugas medis.
Sepanjang perawatan, termasuk saat operasi pembersihan kulit pada Jumat (20/03/2026), Bripka Agus setia mendampingi. Di sela tugasnya, ia rutin mengantarkan makanan dan minuman ke ruang bedah, memastikan sang perantau merasa tidak sendirian.
Sempat membaik, kondisi Abdul Rahim tiba-tiba memburuk pada Kamis berikutnya. Bakteri dari luka bakar menyerang syaraf otaknya. Bripka Agus kembali harus menandatangani dokumen medis darurat agar tindakan penyelamatan di ruang ICU bisa dilakukan.
Malam itu, Bripka Agus memilih menginap di lorong ICU, terjaga memantau kondisi "saudara barunya" tersebut. Namun takdir berkata lain. Pada Jumat pagi (27/03) pukul 06.30 WITA, Abdul Rahim mengembuskan napas terakhirnya.
Rasa cemas sempat menyelimuti Bripka Agus tentang di mana jenazah akan dimakamkan. Berbekal koordinasi cepat dengan H. Suroto mantan Kadis Sosial Lotim (saat ini menjabat sebagai kadis Disnaker trans), Camat Pringgabaya, serta Pemerintah Desa Pringgabaya Utara, solusi pun ditemukan.
Sesuai aturan, warga terlantar dimakamkan di tempat domisili terakhirnya. Dengan penuh khidmat, Bripka Agus bersama warga Dusun Semaya bahu-membahu menggali liang lahat dan menyiapkan prosesi fardu kifayah.
Tepat setelah salat Jumat, jenazah Abdul Rahim pun dihantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Meski tak dihadiri keluarga kandung dari Jawa, kepergiannya diantar oleh ketulusan seorang polisi dan masyarakat yang telah menganggapnya keluarga.
"Ini murni bentuk kepedulian. Tidak ada keluarga di sini, maka kitalah keluarganya," tutur Bripka Agus dengan nada rendah usai prosesi pemakaman.
Tindakan nyata Bripka Agus Salim ini menjadi pengingat bahwa dedikasi melampaui tugas administratif, dan kemanusiaan adalah hukum tertinggi. (rs)


