![]() |
| Waga Ketangga menambal dosa proyek pembangunan pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lombok Timur yang dibiarkan terbengkalai. |
Puluhan warga Dusun Montong Gedeng terpantau bahu-membahu memperbaiki jalan lingkungan yang rusak parah akibat bekas galian pipa yang tidak dikembalikan ke kondisi semula.
Akses yang menghubungkan pemukiman warga menuju Masjid Pusaka tersebut kini dipenuhi lubang menganga dan gundukan tak beraturan. Padahal, jalan ini merupakan urat nadi utama bagi warga setempat, terutama bagi para pemudik yang akan segera tiba.
Ketua Pemuda Dusun Montong Gedeng, Paesal Kodrat, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebut pengerjaan proyek PDAM yang selesai tahun lalu tersebut justru meninggalkan penderitaan bagi warga.
"Kami sangat kecewa. Pengerjaan proyek PDAM selesai, tapi jalan dibiarkan rusak seperti ini. Kalau tidak diperbaiki sekarang, bagaimana nanti pas lebaran? Keluarga yang mudik pasti susah lewat sini," tegas Paesal saat ditemui di lokasi gotong royong, Selasa (3/3/2026) malam.
Alih-alih menunggu janji manis PDAM atau kontraktor pelaksana yang tak kunjung terealisasi, warga memilih bergerak sendiri. Dengan semangat "daripada menunggu yang tak pasti", warga mengerahkan dana dan tenaga secara swadaya, Warga membeli semen dan menyumbang batu koral serta pasir secara sukarela sementara Ibu-ibu rumah tangga turut ambil bagian dengan menyediakan konsumsi bagi para pekerja.
"Kami tidak bisa diam saja. Daripada menunggu janji PDAM yang tidak kunjung jelas, lebih baik kami kerja bakti. Yang penting jalan ini bisa dilalui dengan nyaman untuk silaturahmi nanti," ujar Has Tutik, salah satu warga yang ikut menyuplai minuman untuk warga yang bekerja.
Warga Desa Ketangga menegaskan bahwa mereka tidak anti terhadap pembangunan infrastruktur air bersih. Namun, mereka menuntut tanggung jawab penuh dari PDAM dan rekanan kontraktonya.
Kondisi jalan yang jika hujan berubah menjadi kubangan lumpur ini dianggap sangat membahayakan, terutama bagi lansia dan anak-anak. Warga meminta agar setiap proyek penggalian wajib diikuti dengan pengembalian fungsi infrastruktur publik secara layak.
"Jangan hanya berhenti pada pemasangan pipa semata. Selesaikan sampai tuntas, jangan warga yang harus menanggung akibatnya," tutup Tutik dengan nada tegas.
Dengan semangat Ramadan, warga bertekad menyelesaikan proyek rakyat ini sebelum malam takbiran tiba, demi memastikan Idulfitri di Desa Ketangga tetap berjalan hangat tanpa hambatan infrastruktur. (rs)


