| Dwi Oksa Azimul Adhatul Islam Mahasiswa Hukum Keluarga (ahwal al syakhshiyah) |
Lalu Irawan Muda
Dosen Tetap Hukum Keluarga (ahwal al syakhshiyah)
Rumah sering dibayangkan sebagai tempat paling
aman bagi setiap anak ruang untuk tumbuh, belajar, dan merasa dicintai. Namun,
bagi sebagian anak, rumah justru menjadi sumber ketakutan. Kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT) bukan hanya melukai pasangan, tetapi juga meninggalkan
jejak mendalam pada anak yang menyaksikan atau mengalaminya.
Fenomena ini juga terlihat di Desa Sembalun
Timbagading, Lombok Timur, di mana kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya
menjadi persoalan privat, tetapi juga persoalan sosial yang berdampak pada masa
depan anak-anak.
Anak: Korban yang Sering Tak Terlihat
Dalam banyak kasus KDRT, perhatian publik lebih
tertuju pada korban langsung, seperti istri. Padahal, anak yang berada dalam
lingkungan tersebut juga merupakan korban baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Menurut World Health Organization, anak yang
tumbuh dalam lingkungan kekerasan berisiko tinggi mengalami gangguan
perkembangan emosional, sosial, dan bahkan fisik. Mereka bukan hanya
menyaksikan konflik, tetapi juga menyerap ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak
aman.
Dampak Psikologis: Luka yang Tak Selalu Terlihat
Kekerasan dalam rumah tangga berdampak besar
pada kondisi psikologis anak. Beberapa dampak yang umum terjadi antara lain:
●
Rasa takut
dan kecemasan berlebihan
●
Trauma dan
stres berkepanjangan
●
Kesulitan
mengontrol emosi
●
Perilaku
agresif atau justru menarik diri
Teori Social Learning dari Albert Bandura
menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi. Ketika kekerasan menjadi
bagian dari kehidupan sehari-hari, anak berpotensi meniru perilaku tersebut
sebagai cara menyelesaikan masalah.
Artinya,
kekerasan tidak hanya berdampak saat ini, tetapi juga bisa diwariskan dalam
bentuk perilaku di masa depan.
Gangguan Perkembangan Emosi dan Kepribadian
Dalam perspektif perkembangan, Erik Erikson
menekankan bahwa masa kanak-kanak dan remaja adalah fase penting dalam
pembentukan kepercayaan (trust) dan identitas diri.
Anak
yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan cenderung:
●
Kehilangan
rasa aman
●
Sulit
mempercayai orang lain
●
Mengalami
kebingungan identitas
●
Rentan
terhadap depresi
Kondisi
ini dapat menghambat proses tumbuh kembang secara optimal.
Antara Diam dan Ledakan Emosi
Menariknya, tidak semua anak merespons kekerasan
dengan cara yang sama. Ada dua kecenderungan umum:
- Internalisasi
(ke dalam diri)
Anak menjadi pendiam, menarik diri, dan menyimpan luka sendiri. - Eksternalisasi
(ke luar)
Anak menunjukkan perilaku agresif, mudah marah, atau melawan.
Menurut Daniel Goleman, kemampuan mengelola
emosi sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil. Lingkungan yang penuh
kekerasan dapat menghambat perkembangan kecerdasan emosional anak.
Peran Lingkungan: Harapan di Tengah Luka
Meski dampaknya berat, anak tetap memiliki
peluang untuk pulih. Faktor penting yang dapat membantu antara lain:
●
Dukungan
dari keluarga besar
●
Perhatian
guru dan sekolah
●
Lingkungan
sosial yang positif
●
Pendampingan
emosional
Lingkungan
yang suportif dapat menjadi “penyeimbang” dari pengalaman buruk di rumah.
KDRT Bukan Sekadar Urusan Rumah Tangga
Seringkali KDRT dianggap sebagai masalah pribadi
yang tidak perlu dicampuri. Padahal, dampaknya bersifat luas dan jangka
panjang.
Anak-anak
yang tumbuh dalam kekerasan berpotensi:
●
Mengalami
masalah pendidikan
●
Kesulitan
dalam hubungan sosial
●
Mengulangi
pola kekerasan di masa depan
Artinya,
KDRT bukan hanya masalah keluarga, tetapi juga masalah masyarakat.
Penutup: Mengembalikan Makna Rumah
Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi
anak. Ketika rumah justru menjadi sumber ketakutan, maka ada yang harus
diperbaiki bukan hanya dalam keluarga, tetapi juga dalam kesadaran sosial kita.
Melindungi anak dari kekerasan bukan sekadar kewajiban moral, tetapi investasi
masa depan. Karena setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh
kasih, dan bebas dari rasa takut.

