Daftar Isi [Tampil]

Menu sehat di bulan suci Ramadan
Lombok Timur - Radarselaparang.com || Perubahan pola makan selama bulan suci Ramadan menuntut masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih asupan. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi, mengeluarkan imbauan penting terkait transisi pola makan dari tiga kali menjadi dua kali sehari (sahur dan berbuka) agar tidak menjadi bumerang bagi kesehatan.

Menurut Aries, puasa seharusnya menjadi momentum detoksifikasi tubuh, namun seringkali justru memicu gangguan pencernaan hingga penyakit metabolik akibat pola makan yang salah saat berbuka.

Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah pembatasan konsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan garam secara berlebihan saat berbuka puasa. Puasa akan memberikan manfaat kesehatan apabila diimbangi dengan pola makan yang tepat.

"Masyarakat perlu memperhatikan jenis makanan serta menjaga kecukupan cairan tubuh," ujar Aries pada Rabu (18/2/2027).

Dinkes mencatat beberapa keluhan kesehatan yang kerap melonjak selama Ramadan, di antaranya Penyakit Maag: Akibat perut kosong yang langsung diisi makanan berat/pedas, Dehidrasi & Sakit Kepala: Dipicu kurangnya asupan air putih, dan Penyakit Metabolik: Risiko meningkatnya tekanan darah dan gula darah akibat asupan lemak serta gula yang tak terkontrol.

Agar tubuh tetap bugar dan ibadah berjalan optimal, Kadinkes menyarankan beberapa langkah praktis berikut yakni Gizi Seimbang dengan memastikan menu sahur dan buka mengandung karbohidrat kompleks, protein, vitamin, dan mineral, Aktivitas Fisik dengan etap lakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki atau peregangan setelah berbuka untuk menjaga kelenturan tubuh, dan Manajemen Tidur dengan menjaga waktu istirahat yang cukup meski jadwal ibadah meningkat di malam hari.

Bagi masyarakat dengan kondisi khusus seperti lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis, Aries menyarankan untuk melakukan konsultasi medis terlebih dahulu sebelum memutuskan berpuasa. Hal ini penting guna memastikan kondisi fisik tetap stabil dan tidak memicu risiko kesehatan yang lebih berat.

"Harapan kami, masyarakat Lombok Timur dapat menjalani Ramadan dengan kondisi prima, sehingga ibadah dapat berlangsung optimal tanpa gangguan kesehatan berarti," pungkasnya. (rs)