![]() |
Oleh:
Muhammad Shohibul Ihsan [Mahasiswa Program Doktor Pendidikan IPA Universitas Sebelas Maret Surakarta] Dr. Baskoro Adi Prayitno, S.Pd., M.Pd. [Dosen Pengampu Mata Kuliah Psikologi Kognitif] |
Artikel - Ada yang keliru dalam cara kita mengajarkan sains di sekolah. Di tengah ambisi mencetak generasi unggul, ruang-ruang kelas justru sering melahirkan siswa yang mahir menghafal, tetapi gagap memahami. Mereka terbiasa menjawab soal, namun tidak terbiasa mempertanyakan. Lebih jauh lagi, mereka mampu menjelaskan fenomena ilmiah di atas kertas, tetapi kerap kesulitan mengambil keputusan bijak dalam kehidupan nyata. Paradoks ini bukan sekadar persoalan metode mengajar, melainkan cerminan dari arah pendidikan kita yang terlalu lama terjebak pada orientasi kognitif semata. Sains direduksi menjadi kumpulan fakta, rumus, dan prosedur teknis. Dimensi reflektif, kontekstual, dan moral nyaris tersisih. Padahal, dalam realitas kehidupan, sains tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkelindan dengan nilai, budaya, dan pilihan-pilihan etis.
Kita bisa melihat dampaknya secara nyata. Di tengah meningkatnya kesadaran akan krisis lingkungan, misalnya, tidak sedikit individu berpendidikan yang justru berkontribusi pada kerusakan alam. Pengetahuan ilmiah yang dimiliki tidak otomatis berbanding lurus dengan tanggung jawab moral. Di titik ini, pendidikan patut dipertanyakan: apakah kita benar-benar mendidik, atau sekadar melatih? Di sinilah pentingnya meninjau ulang fondasi pembelajaran sains. Salah satu pendekatan yang layak dipertimbangkan—meski belum banyak diarusutamakan—adalah integrasi etnosains. Pendekatan ini berangkat dari premis sederhana: pengetahuan tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dari pengalaman manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan budaya.
Etnosains, dalam pengertian ini, bukan sekadar romantisasi kearifan lokal. Ia adalah sistem pengetahuan yang telah teruji dalam praktik kehidupan masyarakat. Dari cara bertani yang menjaga keseimbangan ekosistem hingga pola konsumsi yang memperhatikan keberlanjutan, etnosains menyimpan logika dan nilai yang sering kali justru hilang dalam pembelajaran formal. Ironisnya, sistem pendidikan kita cenderung meminggirkan pengetahuan semacam ini. Kurikulum lebih mengutamakan konsep-konsep yang dianggap “ilmiah” dalam pengertian sempit—terlepas dari konteks sosial dan budaya siswa. Akibatnya, terjadi keterputusan antara apa yang dipelajari di sekolah dan apa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah penelitian dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa pendekatan berbasis etnosains mampu menjembatani kesenjangan tersebut. Integrasi etnosains dalam pembelajaran terbukti meningkatkan literasi sains sekaligus pemahaman konseptual siswa (Ningrum et al., 2025; Risamasu & Pieter, 2025). Sains tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai bagian dari realitas yang mereka kenal. Namun, manfaat terbesar dari pendekatan ini justru terletak pada dimensi yang sering diabaikan: moralitas. Dalam praktik-praktik budaya lokal, terkandung nilai-nilai seperti tanggung jawab, keseimbangan, dan keberlanjutan. Ketika siswa diajak memahami praktik tersebut secara ilmiah, mereka sekaligus belajar merefleksikan nilai yang melandasinya.
Masalahnya, integrasi etnosains saja tidak cukup. Tanpa strategi pedagogis yang tepat, pendekatan ini berpotensi menjadi sekadar tambahan konteks tanpa dampak signifikan. Di sinilah model problem-based learning (PBL) yang dipadukan dengan scaffolding menemukan relevansinya. PBL menggeser pusat pembelajaran dari guru ke siswa, dari jawaban ke pertanyaan, dari hafalan ke pemecahan masalah. Siswa dihadapkan pada persoalan nyata yang sering kali kompleks dan tidak memiliki satu jawaban tunggal. Dalam proses ini, mereka dipaksa untuk berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan.
Scaffolding, di sisi lain, memastikan bahwa proses tersebut tidak berlangsung tanpa arah. Guru tetap hadir, tetapi bukan sebagai sumber kebenaran tunggal. Ia menjadi fasilitator yang memberikan dukungan secara bertahap—cukup untuk mendorong, tetapi tidak sampai menggantikan proses berpikir siswa. Kombinasi antara etnosains, PBL, dan scaffolding menciptakan ruang belajar yang tidak hanya menantang secara intelektual, tetapi juga kaya secara moral. Ketika siswa dihadapkan pada persoalan seperti konflik antara praktik budaya dan dampak lingkungan, mereka tidak hanya diminta mencari solusi ilmiah, tetapi juga mempertimbangkan konsekuensi etis.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pendekatan semacam ini secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kesadaran moral siswa (Aladin et al., 2024; Nasution & Istianah, 2026). Mereka belajar bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan rumus, dan tidak semua jawaban dapat ditemukan di buku teks. Lebih jauh lagi, pembelajaran ini juga membangun keterampilan sosial yang semakin penting di era kolaboratif. Diskusi, negosiasi, dan kerja sama menjadi bagian integral dari proses belajar. Dalam konteks ini, siswa tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar hidup di dalamnya (Winata & Arisona, 2024).
Namun, jika pendekatan ini sedemikian menjanjikan, mengapa belum menjadi arus utama? Jawabannya tidak sederhana, tetapi setidaknya ada tiga faktor yang patut dicermati. Pertama, sistem pendidikan kita masih sangat berorientasi pada hasil ujian. Selama indikator keberhasilan pendidikan diukur dari angka, pendekatan yang menekankan proses dan refleksi akan selalu berada di pinggiran. Guru didorong untuk “mengejar target”, bukan membangun pemahaman. Kedua, kapasitas guru dalam mengembangkan pembelajaran kontekstual masih terbatas. Banyak guru belum mendapatkan pelatihan yang memadai untuk mengintegrasikan etnosains atau menerapkan PBL secara efektif. Akibatnya, inovasi pembelajaran sering kali berhenti pada level wacana. Ketiga, terdapat bias epistemologis dalam sistem pendidikan kita. Pengetahuan ilmiah modern sering diposisikan lebih tinggi dibandingkan pengetahuan lokal. Padahal, keduanya memiliki logika dan validitas masing-masing. Tanpa perubahan cara pandang ini, integrasi etnosains akan selalu dianggap sebagai pelengkap, bukan sebagai bagian integral.
Di tengah tantangan tersebut, diperlukan keberanian untuk melakukan reorientasi. Pendidikan tidak bisa lagi sekadar memproduksi lulusan yang “siap kerja”, tetapi harus mampu membentuk individu yang mampu berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab. Ini bukan sekadar tuntutan ideal, tetapi kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas global. Laporan OECD (2023) menegaskan bahwa kompetensi masa depan mencakup kemampuan berpikir kritis, refleksi, dan pengambilan keputusan berbasis nilai. Sementara itu, UNESCO (2021) mendorong pendidikan yang berakar pada konteks lokal sekaligus responsif terhadap tantangan global. Dua lembaga ini mengirim pesan yang sama: pendidikan harus berubah.
Dalam konteks Indonesia, perubahan ini justru memiliki modal kuat. Keberagaman budaya yang dimiliki bukanlah hambatan, melainkan sumber daya yang luar biasa. Masalahnya, selama ini potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dalam sistem pendidikan formal. Belajar dari budaya bukan berarti menolak sains modern. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk memperkaya cara berpikir ilmiah dengan perspektif yang lebih luas. Sains tidak kehilangan objektivitasnya ketika dikaitkan dengan budaya; justru ia menjadi lebih relevan dan manusiawi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan sederhana: untuk apa kita mengajarkan sains? Jika jawabannya hanya untuk lulus ujian, maka pendekatan yang ada saat ini mungkin sudah cukup. Namun, jika kita ingin membentuk generasi yang mampu memahami dunia sekaligus bertindak bijak di dalamnya, maka perubahan tidak bisa ditunda. Integrasi etnosains dengan pembelajaran berbasis masalah bukanlah solusi instan. Ia menuntut perubahan cara pandang, kebijakan, dan praktik. Tetapi di tengah krisis yang semakin kompleks, pendekatan ini menawarkan sesuatu yang selama ini hilang dalam pendidikan kita: keterhubungan antara pengetahuan dan nilai.
REFRENSI
Aladin, A., Asrowi, A., & Santosa, E. B. (2024). Problem-based learning-oriented e-module to innovate learning activities in high school. Journal of Education Research and Evaluation, 8(4), 622–632.
Nasution, S., & Istianah, S. (2026). Efektivitas model problem-based learning dalam meningkatkan pemahaman nilai akhlak. Educational Journal, 1(3), 742–750.
Ningrum, V. W., Hamdu, G., & Saputra, E. R. (2025). Efektivitas problem-based learning berbasis etnosains terhadap literasi sains siswa. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4).
OECD. (2023). PISA 2022 results: The state of learning and equity in education. OECD Publishing.
Risamasu, P. V. M., & Pieter, J. (2025). Development of ethnoscience-based PBL teaching materials and its impact on critical thinking skills. Journal of Educational Analytics, 4(4).
Safirah, A. D., Ningsih, Y. F., Suhartiningsih, S., Masyhud, M. S., & Hutama, F. S. (2024). Problem-based learning with culturally responsive teaching approach. Jurnal Review Pendidikan Dasar, 10(2), 87–96.
UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A new social contract for education. UNESCO Publishing.
Winata, M. G. Y., & Arisona, R. D. (2024). Pengaruh problem-based learning berbasis etnosains terhadap keterampilan sosial siswa. Dinamika Sosial, 3(1).


