Lombok Timur - Radarselaparang.com || Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, mengambil langkah cepat dalam merespons keresahan para peternak ayam broiler di wilayahnya. Melalui rapat koordinasi yang digelar di ruang rapat Bupati dengan fokus utama Pemerintah daerah berupaya menyelaraskan transisi kebijakan energi sekaligus memastikan standar kualitas bibit ayam (Day Old Chick/DOC) tetap terjaga.Senin (20/4/2026),
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin didampingi Sekda H. Muhammad Juaini Taofik saat melakukan rapat koordinasi dengan para peternak ayam
Rapat strategis ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, perwakilan perusahaan mitra, serta Asosiasi Peternak Ayam Broiler.
Menanggapi polemik peralihan gas elpiji 3 Kg ke non-subsidi, Bupati yang akrab disapa H. Iron ini menegaskan bahwa pemerintah hadir untuk mencari jalan keluar, bukan menambah kepanikan. Ia mengapresiasi kesiapan peternak untuk beralih ke elpiji non-subsidi, namun ia juga memberikan catatan keras kepada dinas terkait dan perusahaan mitra.
"Kita selalu mencari solusi, mencari benang merah dari masalah yang kusut. Jangan sampai isu yang menyebar membuat semua panik. Jika ada hal yang rumit, sampaikan ke pemerintah. Pasti pemerintah akan bantu," tegas Bupati H. Iron.
Sebagai langkah konkret, Bupati H. Iron memerintahkan Kepala Dinas Peternakan untuk segera mendata jumlah kandang dan menganalisis total kebutuhan gas non-subsidi di seluruh Kabupaten Lombok Timur guna memastikan distribusi yang tepat sasaran.
Isu kualitas bibit menjadi perdebatan hangat dalam pertemuan tersebut. Perwakilan Asosiasi Peternak Ayam Broiler, Ridatul Yasa, mengungkapkan adanya ketimpangan bobot DOC di lapangan yang rata-rata hanya mencapai 33 gram, di bawah klaim perusahaan sebesar 35 gram.
![]() |
| Bupati Lombok Timur didampingi Sekda dan Kadis Peternakan. |
Melihat kondisi tersebut, Bupati H. Iron menekankan dua poin utama, yakni Standarisasi Bibit Perusahaan mitra wajib memberikan DOC unggul dan tidak boleh merugikan peternak rakyat dan Alternatif dengan meninjau langsung efektivitas kompor berbahan bakar oli bekas sebagai solusi alternatif penghangat kandang, dengan catatan tidak mengganggu pertumbuhan ayam.
Di sisi lain, para peternak mengeluhkan masalah baru di lapangan, yakni langkanya tabung gas 12 kg (non-subsidi). Kelangkaan ini dipicu oleh tingginya permintaan pasar yang kini harus bersaing dengan kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menutup pertemuan, Bupati Haerul Warisin menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim investasi yang sehat di Lombok Timur sekaligus melindungi peternak kecil.
"Pemda ingin membuat para mitra perusahaan bisa aman dan nyaman menjalankan bisnis, tetapi juga bantu bina para mitra peternak dengan baik," pungkasnya.
Pemkab Lombok Timur dijadwalkan akan menggelar rapat lanjutan untuk memantau implementasi kesepakatan ini, memastikan transisi energi tidak mencekik ekonomi kerakyatan di sektor peternakan. (rs)


