
Peternakan Lombok Timur, H. Masyhur.
Lombok Timur - Radarselaparang.com || Dinas Peternakan (Disnakan) Kabupaten Lombok Timur bergerak cepat menyikapi keresahan para peternak ayam terkait penggunaan Elpiji 3 kg bersubsidi. Menanggapi isu kelangkaan dan aturan penggunaan gas subsidi, Kadis Peternakan Lombok Timur, Masyhur, berencana mengumpulkan ratusan peternak untuk duduk bersama mencari jalan tengah agar produksi ayam lokal tidak kolaps.
Masalah utama yang dihadapi peternak saat ini adalah ketergantungan tinggi terhadap Elpiji 3 kg sebagai bahan bakar pemanas (heater) untuk bibit ayam (DOC). Masyhur menekankan bahwa tanpa suhu yang stabil, risiko kematian ayam sangat tinggi.
"Ayam kalau tidak dipanasi bisa mati. Walaupun pakai listrik 1.000 watt pun, sekarang kalau kedinginan dia akan mati. Kita harus bela peternak kita agar mereka tidak berhenti berproduksi," ujar Masyhur, pada Rabu (15/4/2026).
Selama ini, peternak ayam kategori mandiri maupun kecil masuk dalam klasifikasi UMKM yang berhak menggunakan gas subsidi. Namun, muncul kekhawatiran jika mereka dipaksa beralih ke gas non-subsidi tanpa perhitungan matang, biaya produksi akan membengkak dan membuat peternak merugi.
Mengkaji Subsidi dan Biaya Produksi
Sebagai langkah konkret, Disnakan akan menggelar pertemuan besar pada hari Jumat mendatang bertempat di Ballroom Lombok Timur. Sebanyak 200 lebih peternak ayam akan diundang untuk berdiskusi langsung.
Beberapa poin krusial yang akan dibahas antara lain:
Kajian Biaya Produksi: Apakah penggunaan gas non-subsidi tetap memungkinkan peternak meraup untung?
Skema Subsidi Daerah: Mencari solusi apakah perlu ada subsidi khusus atau kerja sama dengan perusahaan penyedia DOC (seperti Charoen Pokphand).
Data Populasi: Saat ini tercatat populasi ayam mencapai 1,5 juta ekor per periode, sebuah angka yang sangat berpengaruh pada ketahanan pangan daerah.
Selain urusan regulasi, Masyhur juga menyoroti adanya faktor musiman yang menyebabkan distribusi Elpiji 3 kg terserap habis di masyarakat umum. Menurutnya, banyaknya acara hajatan (pesta) pasca-lebaran serta keberangkatan jamaah haji turut meningkatkan konsumsi gas secara drastis.
"Sekarang ada musim pesta, ada keberangkatan jamaah haji yang mencapai ribuan. Satu acara saja bisa menggunakan gas selama berhari-hari. Ini yang juga harus kita sadari bersama letak kekurangannya di mana," tambahnya.
Disnakan Lombok Timur menegaskan tidak ingin mengambil keputusan sepihak yang justru membebani masyarakat. Melalui pertemuan nanti, diharapkan muncul referensi kebijakan yang tepat apakah tetap mengupayakan akses gas subsidi bagi peternak atau menyiapkan skema transisi ke non-subsidi yang tidak mencekik leher peternak. Sehingga peternak ayam tetap beroperasi jika tidak beroperasi akan berdampak pada inflasi karena terjadi kelangkaan daging ayam dan memicu kenaikan harga besar-besaran.
"Mari kita duduk bersama dan mengkaji agar jangan sampai kebijakan yang diambil justru merugikan masyarakat peternak kita," tutup Masyhur. (rs)

