![]() |
| Kepala SMAN 1 Pringgabaya, Hasanudin, S.Pd. |
Pantauan di kolom komentar menunjukkan adanya polarisasi pandangan. Akun @Habiburrahman AbuZarna dan @Ust Faidul Akbar mengkritik keras kegiatan tersebut karena dinilai jauh dari nilai religius dan pembinaan karakter, bahkan mendesak pihak MUI untuk memberikan teguran.
Di sisi lain, akun @Zarkasyi Hawari memberikan pembelaan. Ia menilai euforia siswa adalah hal yang manusiawi dan jauh lebih aman dilakukan di lingkungan sekolah daripada melakukan konvoi liar di jalan raya.
Klarifikasi Cepat Kepala Sekolah
Menanggapi kegaduhan tersebut, Kepala SMAN 1 Pringgabaya, Hasanudin, S.Pd, memberikan klarifikasi langsung pada Kamis (16/4/2026). Ia menegaskan bahwa acara tersebut bukan kegiatan liar, melainkan agenda yang diawasi ketat.
"Acara tersebut telah mendapat izin orang tua. Bahkan, banyak orang tua yang mengantar, menyaksikan, hingga menjemput anak-anak mereka pulang," tegas Hasanudin.
Hasanudin mengungkapkan bahwa pihak sekolah sebenarnya sempat bimbang. Namun, ada pertimbangan besar di balik pemberian izin kegiatan hingga malam hari tersebut:
1. Menghindari Kenakalan Jalanan: Sekolah lebih memilih memfasilitasi siswa di dalam lingkungan sekolah daripada mereka turun ke jalan untuk melakukan aksi trek-trekan (balap liar) atau corat-coret seragam.
2. Keamanan Terjamin: Acara tersebut tidak hanya didampingi guru, tetapi juga dihadiri oleh Kapolsek setempat beserta sepuluh personel kepolisian untuk memastikan kondusifitas.
3. Hanya Bonus Vendor: Terkait video dance yang viral, Kepsek menjelaskan bahwa itu adalah sesi tambahan dari pihak vendor dokumentasi yang hanya berlangsung sekitar lima menit menjelang waktu Isya sebagai penutup rangkaian acara.
Kronologi Kegiatan
Kegiatan yang dikelola oleh vendor profesional ini dimulai sejak pagi hari dengan agenda Upacara terakhir untuk kelas XII, Sesi foto angkatan, Pengambilan video dengan efek flash light setelah Maghrib, dan Acara berakhir tepat setelah Isya, di mana para siswa membubarkan diri dengan tertib.
Pihak sekolah berharap masyarakat dapat melihat konteks kegiatan ini secara utuh sebagai upaya preventif sekolah dalam meredam euforia kelulusan yang berlebihan di ruang publik. (rs)


