![]() |
| Anterian masyarakat mengular untuk mendapatkan gas Elpiji 3 kg. |
Pantauan di lapangan, seperti yang terjadi di Masbagik Selatan hari ini Sabtu (4/4/2026), ratusan warga tampak mengantre berjam-jam di bawah terik matahari demi satu tabung gas. Kekecewaan warga memuncak, terutama menagih janji Pemerintah Daerah.
"Mana gas yang katanya Pak Bupati tidak langka itu? Kami sudah keliling tapi kosong semua," cetus salah satu warga di tengah antrean dengan nada kesal.
Ironi ini mencuat setelah sebelumnya Penjabat Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, memberikan pernyataan bahwa stok elpiji di Lombok Timur dalam kondisi aman. Namun, fakta di pasar justru menunjukkan kondisi sebaliknya: rak-rak pangkalan kosong melompong.
Ketua Forum Rakyat Bersatu (FRB) Kabupaten Lombok Timur, Eko Rahadi, angkat bicara dengan nada pedas. Pengacara vokal ini menduga ada permainan di balik hilangnya gas melon dari peredaran. Ia mencontohkan sulitnya mendapatkan gas bahkan setelah berkeliling dari Keruak, Masbagik, hingga Selong.
"Masyarakat jangan di-nina bobo-kan dengan janji. Faktanya di lapangan bertolak belakang," tegas Eko.
Eko menuding para kepala dinas dan kepala bidang terkait hanya memberikan laporan "Asal Bapak Senang" (ABS) kepada Bupati tanpa melihat realita masyarakat yang sedang "meronta". Ia juga menyoroti dugaan adanya pembelian berlebihan (aksi borong) oleh mitra Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditengarai menjadi salah satu penyebab stok di tingkat pengecer habis total.
![]() |
| Kelangkaan gas Elpiji 3 kg yang makin parah melanda Lombok Timur. |
Indri, salah seorang pengecer di Kecamatan Sikur, mengaku sudah empat hari tidak mendapatkan pasokan.
"Distribusi ke pangkalan hanya seminggu sekali, itu pun hanya untuk warga sekitar pangkalan, pengecer tidak dikasih," keluhnya.
Di tengah kegentingan ini, para pemangku kebijakan terkesan buang badan. Kabid Bapokting Dinas Perdagangan Lotim, Saiful Wathan, enggan berkomentar banyak dan berdalih bahwa pernyataan harus keluar dari satu pintu, yakni Kepala Dinas.
Namun, saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Perdagangan Lotim, Hadi Fathurrahman, justru belum memberikan keterangan resmi. Bungkamnya para pejabat ini semakin memicu kekhawatiran akan terjadinya gelombang protes massa yang lebih besar.
Satu-satunya titik terang muncul dari Kabag Ekonomi Setda Lombok Timur, Abdullah. Meski belum bisa memberi solusi instan, ia mengakui bahwa polemik ini telah menjadi atensi legislatif.
"Kami diundang oleh DPRD Lotim untuk membahas kelangkaan gas elpiji ini pada Senin (6/4/2026) mendatang," ujar Abdullah.
Secara terpisah, Sekda Lombok Timur, Muhammad Juaini Taofik, menyampaikan berdasarkan informasi dan fakta lapangan beberapa hari ini, barusan (hari ini Sabtu, 4/4/2026) dirinya ditugaskan oleh Bupati untuk Koordinasi dengan Pertamina Ampenan. Berita Baiknya, dalam waktu dekat Lotim akan disuplay kembali Ektra doping, sebagaimana H+1 sampai dengan H+7 Lebaran.
"Demikian yang dapat Kami khabari Rekan2..., Kami bersama Camat dan OPD terkait terus juga memonitor sikon ini, Kami mohon maaf juga belum cepat menormalkan sikonnya.🙏,"tulisnya di group wa.
Publik kini menunggu, apakah pertemuan di gedung dewan nanti akan melahirkan solusi nyata, dan apa yang diusahakan Pemda dengan koordinasi bersama pihak Pertamina akan membuahkan hasil, ataukah rakyat tetap dibiarkan "berkelahi" di pinggir jalan demi satu tabung gas hijau yang kian misterius keberadaannya. (rs)



