Lombok Timur Radarselapang.com || Senin malam kelabu bagi pedagang Pasar Pringgabaya. Sekitar pukul 18.00 WITA, Senin (27/4/2026), si jago merah melahap pasar tradisional itu. Api menjalar cepat, menghanguskan setidaknya 165 kios dan menyisakan puing di mana-mana.
Tim Damkar Lombok Timur saat menyiram sisa puing memadamkan sisa api yang masih menyala.
Api muncul menjelang malam dan langsung merambat ke bagian tengah pasar. Di sana berjejer lapak konveksi dan sembako material yang mudah terbakar. Akibatnya, sebagian besar area los pasar tak terselamatkan.
Camat Pringgabaya, Liza Sugiarti, meninjau lokasi Selasa (28/4/2026). Ia menyebut kerugian materiil fantastis.
"Estimasi kerugian mungkin mencapai puluhan miliar rupiah. Kita melihat di situ banyak konveksi, baju-baju, sembako, dan kebutuhan masyarakat lainnya yang ludes terbakar," kata Liza di lokasi.
Menindaklanjuti instruksi Sekda dan Bupati Lotim, kecamatan bersama Dinas PU dan Dinas Perdagangan langsung bergerak. Pembersihan lokasi dikebut. Targetnya, dua hari ke depan area pasar bersih dari puing.
"Instruksi dari Pak Sekda hari ini kita adakan pembersihan, namun tetap berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar tidak merusak TKP. Kami usahakan dua hari ini bersih total sehingga masyarakat bisa dibuatkan lapak sederhana dulu untuk berjualan kembali," jelas Liza.
Pemda juga tengah mengupayakan anggaran pembangunan kembali. Opsi yang disiapkan: anggaran perubahan hingga melobi Kementerian Perdagangan.
Penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Garis polisi sudah dipasang di titik krusial. Tim identifikasi masih bekerja mencari titik awal api.
Kapolsek Pringgabaya, AKP Gede Gisi, minta publik bersabar. "Tim lagi bekerja untuk menyelidiki penyebab pastinya. Terkait dugaan korsleting listrik, itu baru dugaan-dugaan. Kami belum bisa menyampaikan penyebab pastinya sebelum ada hasil resmi dari tim identifikasi," tegasnya.
Pasar Pringgabaya adalah urat nadi ekonomi warga. Kini, banyak pedagang kehilangan mata pencaharian. Bu Jamaah, pedagang pakaian, tak kuasa menahan sedih.
"Waktu saya ke sini, api sudah besar di tengah. Saya jualan kain dan pakaian, kerugian saya sekitar Rp300 juta. Tidak ada yang bisa diselamatkan, mungkin sisanya cuma bisa ditimbang (loak) saja," tuturnya.
Harapannya jelas: pemerintah tak cuma bersihkan lokasi. "Harapan kami segera diperbaiki dan ada bantuan modal. Pasar ini ladang sawah kami, kami tidak punya usaha lain. Setidaknya kami bisa jualan lagi secepatnya, meski dengan lapak sementara," pungkasnya. (rs)

