LOMBOK TIMUR - Radarselaparang.com || Kelangkaan Gas Elpiji 3 kg atau "Gas Melon" yang dirasakan ibu rumah tangga di Lombok Timur sejak menjelang Idul Fitri hingga saat ini mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Perdagangan (Kadisdag) Lombok Timur, Hadi Fathurrahman, menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan pihak Pertamina untuk mengatasi persoalan ini.
Gas elpiji 3 kg yang langka dari menjelang lebaran hingga saat ini yang membuat ibu rumah tangga meradang.
Menurut Hadi, kelangkaan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari siklus tahunan di mana terjadi lonjakan permintaan yang sangat signifikan selama Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
"Ini memang siklus ya, ada peningkatan kebutuhan yang luar biasa di masyarakat. Saya sudah berkoordinasi langsung dengan Sales Branch Manager Pertamina. Untuk merespons fenomena ini, Pertamina telah menambah suplai sebanyak 17.000 tabung, sehingga total distribusi tambahan mencapai 47.000 tabung untuk wilayah Lombok Timur," ungkap Hadi pada awak media, Selasa (31/3/2026)
Ia menjelaskan bahwa secara reguler, stok untuk Lombok Timur berada di angka 35.000 tabung. Penambahan ini diharapkan dapat menormalisasi ketersediaan gas di tengah masyarakat.
Kadisdag menekankan bahwa tugas Dinas Perdagangan, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten sesuai amanah SK Gubernur, adalah mengawasi distribusi dari agen hingga ke pangkalan. Saat ini, Lombok Timur tercatat memiliki 18 Agen dan 757 Pangkalan resmi.
Pihaknya memperingatkan dengan keras agar tidak ada oknum yang bermain dengan harga atau menghambat distribusi.
"Kami melakukan sidak ke agen dan pangkalan. Jika ditemukan pelanggaran, seperti menaikkan harga di atas ketentuan (HET Rp18.000) atau sengaja menahan distribusi, sanksinya tegas izin distribusi bisa dicabut langsung oleh Pertamina," tegasnya.
Hadi mengakui bahwa titik lemah pengawasan seringkali berada di tingkat pengecer yang berada di luar jalur distribusi resmi (pangkalan). Banyaknya pengecer membuat jalur distribusi menjadi panjang dan sulit dikontrol, yang seringkali menjadi pemicu harga melambung di masyarakat.
"Jalur pangkalan inilah yang kami awasi ketat. Kami meminta pangkalan untuk tidak memberikan celah bagi oknum yang ingin mengambil keuntungan pribadi dengan menjual kembali gas melon di atas harga wajar," tambah Hadi.
Masyarakat diminta untuk tidak panik dan tetap melapor jika menemukan pangkalan yang nakal. Pemerintah menjamin bahwa stok secara keseluruhan tetap berjalan reguler dan tambahan kuota sudah mulai masuk ke pasar.
Dinas Perdagangan bersama tim perlindungan konsumen akan terus memantau perkembangan di lapangan guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat ini kembali stabil dalam waktu dekat. (rs)

