Lombok Timur - Radarselaparang.com || Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terus gencar mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana kebakaran di fasilitas publik dan sektor usaha. Menariknya, simulasi penanggulangan kebakaran kini bukan lagi sekadar himbauan, melainkan telah menjadi salah satu syarat administratif yang krusial dalam proses akreditasi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Simulasi mengatasi kebakaran di Puskesmas Selong.
Kepala Dinas Damkarmat Lombok Timur, Lalu Dami Ahyani, mengungkapkan bahwa setiap Puskesmas yang tengah membidik status akreditasi wajib menyertakan bukti autentik bahwa mereka telah menggelar simulasi proteksi kebakaran.
"Kalau Puskesmas akan akreditasi, harus ada bukti sudah dilakukan simulasi proteksi kebakaran. Itu menjadi salah satu persyaratan administrasi yang wajib dipenuhi," tegas Lalu Dami Ahyani saat memberikan keterangan kepada media pada Selasa (26/5/2026).
Lalu Dami menjelaskan, simulasi ini tidak boleh dilakukan secara formalitas belaka atau hanya melibatkan segelintir petugas keamanan. Seluruh komponen di dalam Puskesmas mulai dari jajaran manajemen, dokter, perawat, tenaga administrasi, hingga petugas kebersihanwajib ambil bagian.
Setelah simulasi menyeluruh tersebut sukses dilaksanakan, barulah pihak Damkarmat akan menerbitkan sertifikat atau bukti resmi yang menyatakan bahwa Puskesmas tersebut telah memiliki bekal kesiapsiagaan proteksi kebakaran.
"Sejauh ini, komitmen tersebut sudah mulai diimplementasikan oleh sejumlah fasilitas kesehatan di Lombok Timur," ungkap Lalu Dami.
Salah satunya Puskesmas Selong tercatat sebagai fasilitas kesehatan yang telah sukses menggelar simulasi ini secara kolektif bersama tim Damkarmat
"Beberapa Puskesmas lain di wilayah Lombok Timur juga dilaporkan tengah mengantre dan menjadwalkan agenda serupa," terang Lalu Dami
Lebih lanjut, Lalu Dami menekankan bahwa substansi utama dari kegiatan ini adalah pembentukan mental siap siaga (emergency preparedness). Ia berharap seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) di Lombok Timur memiliki inisiatif tinggi dan tidak pasif.
"Diharapkan semua PKM ini baru melakukan simulasi mengatasi kebakaran ini, jangan menunggu kejadian dulu baru belajar mengatasi kebakaran. Pencegahan dan edukasi itu harus berada di depan," imbuh Lalu Dami.
Tidak hanya menyasar fasilitas kesehatan milik pemerintah, Damkarmat Lombok Timur juga menyoroti sektor swasta dan pelaku usaha kuliner yang memiliki risiko kerentanan tinggi terhadap kebakaran (area dapur). Secara khusus, Dami menyebut nama Dapur MGB sebagai salah satu contoh sektor usaha yang dinilai krusial untuk segera melakukan simulasi serupa.
Menurutnya, pemahaman dasar mengenai fire fighting sangat penting bagi karyawan di sektor kuliner. Minimal, mereka harus memiliki keterampilan dasar untuk menjinakkan api skala kecil, seperti menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) atau kain basah saat terjadi kebocoran gas atau korsleting.
"Begitu juga dengan Dapur MGB, seharusnya melakukan simulasi untuk belajar mengatasi kebakaran. Minimal, mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk melokalisir api sebelum armada bantuan dari Damkarmat tiba di lokasi," pungkas Dami.
Dengan langkah preventif yang masif ini, Damkarmat Lombok Timur berharap angka fatalitas akibat kebakaran dapat ditekan sekecil mungkin, sekaligus mewujudkan ruang publik dan lingkungan usaha yang aman bagi masyarakat luas. (rs/toni)

