![]() |
| Oleh: Riduan Mas’ud, Guru Besar Ekonomi Syariah FEBI UIN Mataram |
Memang, jika dibandingkan dengan pertumbuhan nasional yang mencapai 5,11 persen, capaian tersebut masih perlu ditingkatkan. Namun, dalam perspektif pembangunan daerah, posisi ini justru menunjukkan bahwa Lombok Timur sedang berada pada jalur akselerasi. Ia bukan daerah yang stagnan, melainkan daerah yang sedang bergerak naik dan memiliki ruang besar untuk melompat lebih tinggi.
Lebih menarik lagi, dinamika pertumbuhan dalam periode 2021–2025 memperlihatkan bahwa Lombok Timur memiliki ketahanan ekonomi yang cukup baik. Fluktuasi yang terjadi bukan semata tanda kelemahan, tetapi juga cerminan dari proses transisi menuju struktur ekonomi yang lebih dinamis. Dalam banyak kasus, fase seperti ini justru menjadi titik awal transformasi ekonomi yang lebih kuat.
![]() |
| Laju pertumbuhan ekonomi tahun 2021-2025. |
Di sinilah Lombok Timur memiliki peluang besar untuk melakukan lompatan. Pertama, potensi hilirisasi sektor pertanian sangat menjanjikan. Dengan kekayaan komoditas lokal, daerah ini dapat bergerak dari ekonomi berbasis bahan mentah menuju ekonomi berbasis nilai tambah. Ketika petani mulai terhubung dengan industri pengolahan, maka pertumbuhan tidak hanya terjadi di angka, tetapi juga di tingkat kesejahteraan.
Kedua, kekuatan desa sebagai basis ekonomi menjadi aset strategis. Jika desa-desa didorong menjadi pusat produksi dan inovasi, maka pertumbuhan tidak akan terkonsentrasi di kota saja, tetapi menyebar secara lebih merata. Ini adalah model pembangunan yang bukan hanya cepat, tetapi juga adil.
Ketiga, peluang investasi yang semakin terbuka dapat diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja yang luas. Dengan kebijakan yang tepat, investasi dapat menjadi jembatan antara pertumbuhan dan pemerataan, bukan sebaliknya.
Dalam perspektif teori pembangunan, Lombok Timur sedang berada pada fase penting menuju transformasi struktural. Ini adalah fase di mana arah kebijakan sangat menentukan apakah pertumbuhan akan menjadi eksklusif, atau justru menjadi inklusif dan berkelanjutan.
Lebih dari itu, dalam perspektif Islam, optimisme adalah bagian dari etos pembangunan. Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini memberikan pesan kuat bahwa perubahan ekonomi bukan sekadar soal kondisi, tetapi soal ikhtiar dan kebijakan.
Akhirnya, Lombok Timur hari ini bukan sekadar daerah yang sedang tumbuh, tetapi daerah yang sedang menemukan momentumnya. Data 2025 bukan hanya angka statistik, melainkan sinyal bahwa fondasi ekonomi telah terbentuk.
Tantangan tentu masih ada, tetapi arah sudah jelas. Dengan strategi yang tepat—hilirisasi, penguatan desa, dan investasi inklusif—Lombok Timur memiliki peluang besar untuk tidak hanya tumbuh lebih cepat, tetapi juga tumbuh lebih adil.
Optimisme itu bukan harapan kosong. Ia berdiri di atas data, potensi, dan arah kebijakan yang semakin terarah. Lombok Timur sedang bergerak, dan jika momentum ini dijaga, bukan tidak mungkin ia akan menjadi salah satu motor pertumbuhan baru di kawasan timur Indonesia.



