![]() |
| Oleh: Suparman – PJ Aliansi Pelajar & Mahasiswa Lombok Timur |
OPINI - Sejarah tak pernah bohong. Di setiap tikungan zaman, mahasiswa selalu berdiri di persimpangan: jadi mitra kekuasaan atau jadi kekuatan perlawanan. Dua posisi itu bukan soal gaya-gayaan di kampus, tapi soal keberpihakan. Saat negara berjalan di rel kebenaran, mahasiswa duduk sebagai mitra strategis pembangunan. Tapi saat kebijakan menabrak kepentingan rakyat, diam justru jadi pengkhianatan paling halus terhadap amanah perjuangan.
Antonio Gramsci sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Mahasiswa adalah “intelektual organik”, bukan pelayan istana. Tugasnya membela kepentingan rakyat, bukan menjustifikasi setiap langkah penguasa. Ketika kekuasaan menjauh dari denyut masyarakat, tugas kaum intelektual adalah menyalakan kesadaran kritis dan melakukan perlawanan moral. Karena kekuasaan tanpa koreksi cepat atau lambat akan buta.
Paulo Freire menampar lebih keras. Pendidikan bukan ruang penyesuaian diri pada sistem yang timpang. Pendidikan harus melahirkan keberanian bertanya: untuk siapa kebijakan ini? Siapa yang diuntungkan? Mahasiswa yang hanya bermitra tanpa kritik, pada akhirnya hanya jadi stempel legitimasi. Kemitraan tanpa keberanian mengoreksi sama artinya membiarkan ketidakadilan berjalan atas nama “stabilitas”.
Soekarno pernah berteriak lantang: “Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Kalimat itu bukan puisi. Itu pengakuan bahwa pemuda bukan hiasan negara. Pemuda adalah motor perubahan. Dan motor itu tidak akan hidup kalau hanya disuruh menonton dari pinggir jalan. Karl Marx pun menegaskan: perubahan sosial lahir dari perlawanan terhadap ketimpangan. Hari ini, ketika kebijakan publik lebih sering melindungi elit, mahasiswa punya tanggung jawab moral untuk berdiri di garis depan mengawal keadilan sosial.
Aliansi Pelajar & Mahasiswa Lombok Timur memegang garis itu dengan jelas: kemitraan bukan tunduk, perlawanan bukan kebencian. Kami akan duduk berdialog ketika kekuasaan membuka ruang dan berpihak pada rakyat. Tapi kami juga akan berdiri melawan ketika kritik dibungkam, pendidikan dipermainkan, dan suara masyarakat dianggap angin lalu.
Mahasiswa tidak lahir untuk jadi penonton keadaan. Kami lahir agar kekuasaan tetap berjalan di jalan kebenaran. Di titik inilah letak marwah gerakan mahasiswa: tidak silau kuasa, tidak takut melawan.


