Lombok Timur - Radarselaparang.com || Kualitas air minum di dapur program Makan Bergizi Gratis Lombok Timur jadi sorotan. PT Energi Selaparang menegaskan komitmennya memastikan seluruh dapur MBG hanya menggunakan air mineral yang sudah terstandarisasi dan lulus uji BPOM dan akan melibatkan Koperasi Merah Putih (KMP) dalam.pemdistribusian. 
Rakor di Pemda Lombok Timur bersama OPD dan stakeholder terkait.
Direktur PT Energi Selaparang Joyo Supeno mengatakan pihaknya sudah duduk bersama dengan seluruh pemangku kepentingan seperti berkoordinasi dengan koordinator MBG Lotim, Dandim, Dinas Kesehatan, dan Pemda Lotim.
"Intinya satu, MBG harus kembali ke ketentuan baku Badan Gizi Nasional,” kata Joyo usai mengikuti rakor di Kantor Bupati, pada Senin (4/5/2026)
Menurut Joyo, aturan BGN sudah jelas. Air minum untuk anak sekolah penerima MBG wajib menggunakan air mineral. “Dalam artian air yang sudah terstandarisasi, higienis, dan lulus uji BPOM. Bukan air isi ulang yang tidak jelas proses dan mutunya,” tegasnya.
Fakta di lapangan, baru 15 persen dapur MBG di Lombok Timur yang menggunakan air mineral kemasan galon. Sisanya, 85 persen, masih mengandalkan air isi ulang biasa.
“Ini risiko kesehatan. Anak-anak kita yang minum. Tidak boleh ada kompromi,” tambah Joyo.
Untuk mempercepat peralihan, PT Energi Selaparang menyiapkan skema distribusi berlapis. Tahap awal, perusahaan memanfaatkan jaringan agen yang sudah ada. “Sekarang kami manfaatkan agen untuk masuk ke MBG. Agen kita 75 persen sudah ada di tiap kecamatan. Soal teknis penyaluran, agen yang atur. Kita drop sampai agen,” jelasnya.
Ke depan, Joyo berharap Koperasi Merah Putih (KMP) bisa menjadi mata rantai utama. “Kami dorong kopdes ikut aktif. Nantinya koperasi jadi penyuplai resmi ke dapur MBG di desa masing-masing. Ini sekaligus pemberdayaan ekonomi lokal,” ujarnya.
Dari sisi pasokan, PT Energi Selaparang menyatakan siap. Produksi harian untuk galon mencapai 500 sampai 700 galon per hari. Untuk kemasan botol ukuran 360 ml, 800 ml, dan 1000 ml, produksi tembus 350 dus per hari. Sementara kemasan cup ukuran kecil diproduksi 1.300 sampai 1.700 dus per hari.
“Stok aman. Tinggal bagaimana dapur MBG mau beralih ke air yang terjamin. Kami siap kontrak jangka panjang dengan harga yang kompetitif,” kata Joyo.
Koordinasi dengan Dandim dan Dikes Lotim disebut Joyo berjalan lancar. TNI dan Dinkes sepakat, aspek keamanan pangan di MBG adalah prioritas. Pemda Lotim juga mendorong penggunaan produk lokal yang sudah berizin.
Dengan jaringan 75% agen di kecamatan dan rencana pelibatan Koperasi Merah Putih, PT Energi Selaparang optimistis target 100% dapur MBG Lotim beralih ke air mineral ber-BPOM bisa tercapai dalam waktu dekat.
“Kalau semua dapur MBG pakai air mineral BPOM, kita tidak hanya jaga kesehatan anak, tapi juga gerakkan ekonomi daerah. Agen hidup, koperasi jalan, UMKM distribusi dapat bagian,” tutup Joyo. (RS)

