Daftar Isi [Tampil]

Deklarasikan Perhimpunan Petani Tembakau NTB
Mataram – Radarselaparang.com || Tembakau tetap jadi tulang punggung ekonomi pedesaan Nusa Tenggara Barat. Dengan luas areal tanam 34 ribu hektare dan produksi tahunan 55 ribu ton, NTB resmi mengukuhkan diri sebagai salah satu lumbung tembakau terbesar di Indonesia. Dua komoditas andalan, Tembakau Virginia dan Tembakau Rajangan/Rakyat, kualitasnya diakui pasar dunia.

Namun di balik angka gemilang itu, puluhan tahun petani berjalan sendiri-sendiri. Kini mereka bersatu. Puluhan petani dari berbagai desa dan kecamatan penghasil tembakau mendeklarasikan Perhimpunan Petani Tembako NTB sebagai wadah resmi memperjuangkan nasib bersama.

Selama ini pola kerja petani masih perorangan atau kelompok kecil. Akibatnya rentan terjepit berbagai persoalan klasik, mulai dari Fluktuasi harga tak terduga - Harga seringkali ditentukan sepihak oleh pembeli, Pupuk bersubsidi terlambat & salah sasaran - Sering datang setelah musim tanam, Akses informasi & teknologi minim - Petani tertinggal dari perkembangan industri, Tanpa jaminan kerja & perlindungan sosial - Petani dan buruh tani belum terlindungi, dan Ekspansi ke Sumbawa - Tantangan baru yakni karakter tanah, air, dan jaringan pemasaran belum terbentuk sempurna

“Selama puluhan tahun, tembakau menjadi tumpuan ekonomi pedesaan NTB. Tapi kekosongan wadah yang mewakili kepentingan bersama membuat petani sulit menjadi mitra dialog setara dengan pemerintah maupun perusahaan,” kata Samsul Hasan Basri, inisiator perhimpunan saat deklarasi.

Perhimpunan Petani Tembako NTB tidak sekadar perkumpulan sosial. Ini wadah terstruktur untuk menampung aspirasi dan mendorong perbaikan. 

Menurut Samsul Hasan Basri, ada empat agenda strategis ke depan harus ada Jaminan ketenagakerjaan & perlindungan sosial yang adil untuk petani dan tenaga kerja tani, Kepastian pasokan pupuk, benih unggul & sarana produksi tepat waktu sesuai musim tanam, Membuka akses mudah ke kebijakan & program pertanian pemerintah agar tidak tersendat birokrasi, dan Menjadi jembatan informasi & kemitraan dengan perusahaan di wilayah Lombok-Sumbawa

“Kami tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Bersatu, kepentingan kami lebih jelas, lebih kuat, dan lebih mudah didengar,” tegas Samsul.

Pusat produksi tradisional selama ini di Pulau Lombok: Lombok Timur, Lombok Tengah, sebagian Lombok Barat. Kini areal tanam mulai meluas dan bergeser ke Pulau Sumbawa. 

Perluasan ini jadi peluang sekaligus ujian. Perhimpunan harus mampu menyatukan standar budidaya, jangkauan pelayanan, dan memperkuat solidaritas antar-pulau. Apalagi di tengah isu perubahan iklim dan dinamika regulasi nasional yang terus berubah.

Deklarasi ini menandai babak baru. Tembakau NTB bukan lagi sekadar angka produksi, melainkan kekuatan ekonomi yang dijalankan petani terorganisir, berdaya, dan berdaulat.

Dengan kualitas tembakau Lombok yang sudah diakui dunia dan wadah perhimpunan yang baru terbentuk, harapan besar kini disandarkan: petani NTB bisa duduk setara, bernegosiasi adil, dan sejahtera dari hasil tanahnya sendiri.