Daftar Isi [Tampil]

Dr. H.M Hamidi, ST., M.Pd
OPINI : Satu Muharram dan Pesan Moral Surat Al-'Ashr: Muhasabah Waktu untuk Menjadi Pribadi yang Beruntung

Penulis : Dr. H. M. Hamidi, ST., M.Pd (Wakil Ketua Baznas Lombok Timur/Sekretaris Jenderal Marakitullimat)

Pergantian tahun selalu menghadirkan ruang refleksi bagi manusia. Dalam tradisi Islam, pergantian Tahun Baru Hijriah bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, melainkan momentum spiritual untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap perjalanan kehidupan yang telah dilalui. Ketika bulan Muharram tiba, umat Islam diajak untuk menoleh ke belakang, menimbang amal yang telah dilakukan, sekaligus menata langkah menuju masa depan yang lebih baik.

Satu Muharram merupakan penanda dimulainya tahun baru dalam kalender Hijriah yang berakar dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah bukan hanya perpindahan tempat secara fisik, tetapi juga simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna, lebih beriman, dan lebih berorientasi kepada ridha Allah SWT. Oleh karena itu, setiap datangnya Muharram sejatinya menjadi panggilan bagi setiap muslim untuk melakukan hijrah pribadi, yakni berpindah dari kebiasaan yang kurang baik menuju kebiasaan yang lebih baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali disibukkan oleh berbagai aktivitas yang menyita perhatian. Pekerjaan, urusan keluarga, pendidikan, ekonomi, dan berbagai kebutuhan duniawi kerap membuat manusia lupa bahwa waktu terus berjalan tanpa pernah berhenti. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Sebagian orang mungkin merasakan keberhasilan dan pencapaian yang membanggakan, sementara yang lain menghadapi kegagalan dan berbagai ujian kehidupan. Namun, di balik semua itu terdapat satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab oleh setiap insan: apakah waktu yang telah berlalu menjadikan kita sebagai orang yang beruntung atau justru termasuk golongan yang merugi?

Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya dalam salah satu surat pendek dalam Al-Qur'an yang sangat terkenal, yaitu Surat Al-'Ashr. Meskipun hanya terdiri dari tiga ayat, para ulama menilai surat ini mengandung prinsip-prinsip mendasar yang menjadi pedoman kehidupan manusia. Bahkan Imam Asy-Syafi'i pernah menyatakan bahwa seandainya manusia merenungkan surat ini dengan sungguh-sungguh, maka surat tersebut sudah cukup sebagai pedoman hidup.

Allah SWT berfirman:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1-3)

Ayat pertama diawali dengan sumpah Allah atas nama waktu. Dalam Al-Qur'an, sumpah Allah menunjukkan pentingnya sesuatu yang dijadikan objek sumpah tersebut. Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia. Semua manusia memperoleh jatah waktu yang sama dalam sehari, namun hasil yang diperoleh dari penggunaan waktu tersebut sangat berbeda. Ada yang memanfaatkannya untuk beribadah, belajar, bekerja, dan berbuat kebaikan. Ada pula yang menghabiskannya dalam kelalaian dan aktivitas yang tidak memberikan manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Pesan pertama yang dapat dipetik dari Surat Al-'Ashr adalah pentingnya menghargai waktu. Dalam konteks Tahun Baru Muharram, pesan ini menjadi sangat relevan. Pergantian tahun sejatinya merupakan pengingat bahwa umur manusia semakin berkurang. Setiap tahun yang berlalu tidak akan pernah kembali. Kesempatan yang hilang tidak dapat diulang, dan waktu yang telah lewat tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun. Karena itu, Muharram mengajarkan kepada kita untuk lebih bijak dalam mengelola waktu dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang bernilai.

Selanjutnya, Allah menegaskan bahwa manusia pada dasarnya berada dalam keadaan merugi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kerugian merupakan kondisi alami manusia apabila tidak melakukan upaya untuk memperbaiki dirinya. Kerugian yang dimaksud bukan hanya kerugian materi, tetapi juga kerugian spiritual, moral, dan sosial. Banyak orang yang berhasil secara ekonomi, tetapi gagal menjaga integritas. Banyak yang mencapai kedudukan tinggi, tetapi kehilangan kejujuran dan kepedulian terhadap sesama. Ada pula yang memiliki ilmu yang luas, tetapi tidak mampu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Dalam perspektif Surat Al-'Ashr, kerugian terbesar adalah ketika waktu yang diberikan Allah tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kerugian terjadi ketika manusia terlena oleh kesenangan dunia sehingga melupakan tujuan utama kehidupannya. Oleh sebab itu, Muharram menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi diri: sejauh mana waktu yang telah berlalu digunakan untuk meningkatkan kualitas keimanan, memperbanyak amal saleh, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Menariknya, Allah tidak membiarkan manusia tenggelam dalam kerugian. Dalam ayat berikutnya, Allah memberikan empat syarat agar manusia termasuk golongan yang beruntung.

Pertama, beriman. Keimanan merupakan fondasi utama kehidupan seorang muslim. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang tertanam dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Tahun Baru Muharram hendaknya menjadi momentum memperbarui komitmen keimanan kepada Allah SWT. Keimanan yang kuat akan menjadi kompas yang mengarahkan setiap langkah kehidupan.

Kedua, beramal saleh. Keimanan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Amal saleh tidak terbatas pada ibadah ritual semata, tetapi mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan dengan niat yang benar dan memberikan manfaat bagi sesama. Mengajar, bekerja dengan jujur, membantu orang yang membutuhkan, menjaga lingkungan, mendidik anak dengan baik, serta berkontribusi bagi kemajuan masyarakat merupakan bentuk-bentuk amal saleh yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Dalam konteks Muharram, amal saleh dapat diwujudkan melalui tekad untuk memperbaiki kualitas ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, mempererat silaturahmi, dan memperluas manfaat bagi lingkungan sekitar. Pergantian tahun seharusnya tidak hanya menghasilkan daftar resolusi, tetapi juga perubahan nyata dalam perilaku sehari-hari.

Ketiga, saling menasihati dalam kebenaran. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya budaya saling mengingatkan dalam kebaikan. Kebenaran tidak cukup hanya diketahui dan diamalkan secara pribadi, tetapi juga harus disampaikan kepada orang lain dengan cara yang bijaksana dan penuh hikmah.

Di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini, tantangan dalam menjaga kebenaran semakin besar. Arus informasi yang begitu cepat sering kali membawa berbagai bentuk hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan informasi yang menyesatkan. Oleh sebab itu, semangat saling menasihati dalam kebenaran menjadi semakin penting untuk membangun masyarakat yang sehat dan beradab.

Keempat, saling menasihati dalam kesabaran. Menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai kebenaran bukanlah perkara mudah. Akan selalu ada ujian, tantangan, dan hambatan yang harus dihadapi. Kesabaran menjadi kunci agar seseorang tetap istiqamah dalam menjalani jalan yang benar. Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk tetap teguh dalam kebaikan meskipun menghadapi berbagai kesulitan.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang menginginkan hasil instan. Padahal, perubahan yang baik memerlukan proses, ketekunan, dan kesabaran. Demikian pula dalam memperbaiki diri pada momentum Tahun Baru Muharram. Tidak semua target dapat dicapai dalam waktu singkat. Yang terpenting adalah adanya komitmen untuk terus bergerak menuju perbaikan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, Muharram mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar tentang berapa lama seseorang hidup, melainkan tentang bagaimana ia mengisi kehidupannya. Surat Al-'Ashr memberikan ukuran yang jelas tentang keberuntungan dan kerugian manusia. Keberuntungan tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya popularitas, tetapi oleh kualitas iman, amal saleh, kepedulian terhadap kebenaran, dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.

Oleh karena itu, datangnya Tahun Baru Hijriah hendaknya tidak hanya dirayakan sebagai seremoni tahunan. Muharram harus menjadi momentum refleksi, perbaikan diri, dan penguatan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika tahun lalu masih dipenuhi berbagai kekurangan, maka tahun ini harus menjadi awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna. Jika tahun lalu masih banyak waktu yang terbuang sia-sia, maka tahun ini harus menjadi tahun untuk memaksimalkan setiap kesempatan dalam kebaikan.

Semoga pesan agung Surat Al-'Ashr senantiasa menjadi pengingat bahwa waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dan semoga setiap pergantian Muharram menjadikan kita semakin dekat kepada Allah SWT, semakin banyak beramal saleh, semakin peduli terhadap sesama, serta termasuk golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat.