![]() |
| Nasipudin, S.PdI. calon kepala Desa Dadap penantang pertahanan |
Tapi di Desa Dadap, keadaannya aneh. Terlalu tenang. Terlalu sepi. Incumbent Rohani disebut tak punya lawan. Bukan karena hebat, tapi karena warga "malu dan segan". Konon ia berjasa besar memekarkan Dadap jadi desa. Selama memimpin pun dinilai "biasa-biasa saja, tidak neko-neko, dan jujur".
Sampai akhirnya ada yang berani bicara lantang "Kalau tidak ada pemilihan, berarti demokrasi di Dadap sudah mati."
Dari situlah muncul nama Nasipudin, S.PdI. Ia tidak datang untuk bermusuhan. Ia datang untuk menghidupkan.
Dengan mengusung tagline "Untuk Dadap yang Lebih Maju, Sejahtera, dan Amanah", Nasipudin menantang status quo.
Visinya sederhana tapi menusuk Mewujudkan Desa Dadap yang Mandiri, Sejahtera, dan Berkeadilan. Dan pondasinya cuma dua hal yang sering dilupakan Nilai Keislaman dan Semangat Gotong Royong.
"Pembangunan itu bukan sulap. Tidak bisa dikerjakan satu orang. Harus kita kerjakan bersama," katanya.
Ia bawa 5 misi nyata, bukan janji manis.
Pertama, Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. UMKM lokal akan didorong naik kelas. Pertanian dibenahi agar hasilnya tidak lagi dijual murah ke tengkulak. Tujuannya satu: dompet warga Dadap harus tebal dari hasil sendiri.
Kedua, Infrastruktur Merata. Jalan desa yang rusak diperbaiki. Irigasi yang mampet dibersihkan. Fasilitas umum dibangun tanpa pandang bulu dusun. Biar roda ekonomi jalan, bukan cuma di pusat desa.
Ketiga, Pelayanan Publik Transparan. Balai desa harus jadi rumah kaca. Dana desa, program, anggaran, semua bisa diakses warga. Tidak ada lagi birokrasi berbelit. Yang ada hanya pelayanan cepat dan jujur.
Keempat, Penguatan Religius dan Budaya. Harmoni antar warga dijaga. Kegiatan keagamaan dihidupkan. Budaya lokal Desa Dadap dilestarikan agar tidak punah dimakan zaman.
Kelima, Wisata Desa Jadi Mesin Baru. Keindahan alam dan budaya Dadap akan dikemas jadi destinasi. Tujuannya jelas: buka lapangan kerja baru supaya anak muda tidak harus merantau.
Dengan bekal ilmu agama dan kedekatan dengan masyarakat, Nasipudin maju dengan satu modal niat mengabdi. Padahal semua calon tahu, Dana Desa tahun ini sangat mini dibanding tahun lalu. Tapi bagi dia, mengabdi bukan soal besar kecilnya anggaran.
Sementara 6 Desa Lain Sudah "Berkobar" Berbeda dengan Dadap, suhu Pilkades di desa tetangga sudah naik.
Para bakal calon sudah turun gunung. Silaturahmi ke rumah warga, ngopi, ngobrol, sekaligus memperkenalkan visi misi. Tapi di balik senyum itu, gesekan sudah mulai terasa. Bahkan ada kabar "black campaign" mulai diluncurkan untuk menjatuhkan lawan.
Di Desa Belanting ada Sukradi sang incumbent yang ditantang H. Parhan, Zakir, Suciandi dan Jaya Ikhlas.
Di Sugian, Lalu Mustiadi incumbent harus menghadapi Khaerul Anwar sang Kadus, Arpin dan Baharudin.
Bagik Manis, Abdurrahman incumbent dilawan Aminullah, M.Pd dan Santo.
Senanggalih paling ramai. H. Suparlan SH incumbent dikepung Tamrin, Jaini, Najamudin, Usup dan Naim.
Labuan Pandan ada Sahnan, S.AP incumbent vs Mas Yudi, Agus Salim, Alu Masusuki, Arpin dan Sopian.
Terakhir Padak Guar, Tarmizi SH incumbent berhadapan dengan Abdul Murti Kadus, Multazam dan Agus Munarto.
Hampir semua desa masih dikuasai incumbent. Dan hampir semua calon punya alasan yang sama ingin mengabdi, bukan soal Dana Desa.
Pilihan Ada di Tangan Warga Dadap
Kehadiran Nasipudin, S.PdI adalah tamparan halus bagi kita semua. Ia membuktikan bahwa demokrasi tidak boleh mati karena rasa sungkan. Jabatan publik bukan warisan. Dan memilih pemimpin bukan soal balas budi.
Sekarang warga Desa Dadap dihadapkan dua pilihan.
Memilih karena "tidak enak" dengan yang lama. Atau memilih karena ingin ada perubahan, ada perbandingan, ada harapan baru. Pilkades ini bukan sekadar soal siapa menang dan kalah.
Ini soal harga diri kita sebagai warga desa. Apakah kita masih berani menentukan masa depan sendiri, atau kita biarkan demokrasi kita mati pelan-pelan.
Desa Dadap, panggung sudah dibuka. Giliran Anda yang menentukan siapa yang layak berdiri di atasnya untuk memimpin desa Dadap tercinta 8 tahun kedepan. (RS/Toni)


