Daftar Isi [Tampil]

LSM Garuda Indonesia saat menyantuni keluarga rentan di Dusun Keroak, Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek.
LOMBOK TIMUR Radarselaparang.com || Santunan dan bantuan pangan yang dibagikan LSM Garuda Indonesia di Dusun Keroak, Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, bukan sekadar seremoni. Di baliknya ada pesan memastikan kelompok rentan di pelosok tetap terlihat di tengah kesenjangan ekonomi. Rabu (1/7/2026).

Direktur LSM Garuda Indonesia, M. Zaini, menyebut Dusun Keroak sengaja dipilih. Alasannya, masih banyak warga yang hidup terbatas, mulai dari anak yatim, lansia, janda lanjut usia, hingga keluarga fakir miskin. Pemilihan lokasi santunan karena keterbatasan ekonomi, dan masih banyaknya keluarga dengan kategori ekonomi terbatas akibat ketimpangan sosial ekonomi. 

"Bantuan pangan dan santunan tentunya dapat membantu mengurangi beban mereka," ujar Zaini di lokasi.

Zaini mengaku pertemuan langsung dengan penerima bantuan menjadi pengingat keras baginya. Intinya yang paling menyentuh biasanya bukan besarnya bantuan, tapi rasa syukur dan ketabahan mereka di tengah keterbatasan. 

"Ketemu langsung bikin kita sadar bahwa kita sering mengeluh hal kecil, padahal di luar sana ada orang yang kuat bertahan dengan jauh lebih sedikit," katanya.

Zaini menilai perhatian untuk kelompok rentan sudah ada dari pemerintah, masyarakat, dan para dermawan. Namun ia menilai belum merata dan belum menyentuh akar masalah.

"Sudah ada perhatian, tapi belum cukup merata dan belum sampai akar masalahnya," ungkapnya.

Karena itu, ia melihat peran LSM masih sangat dibutuhkan. Bukan untuk menggantikan, tapi melengkapi. LSM Garuda Indonesia menjadi jembatan di titik-titik kosong. Kalau pemerintah bergerak melalui program berskala kabupaten atau kota, kami hadir mengisi celah-celah kecil yang justru paling terasa di lapangan. 

"Posisi LSM bukan menggantikan pemerintah, tetapi melengkapi, menjadi penghubung sekaligus pengingat," jelasnya.

Zaini berharap aksi di Keroak menjadi titik awal, bukan akhir. Tujuannya agar warga bisa mandiri. Ia berharap semoga kegiatan ini jadi awal, bukan akhir. Awal dari kepedulian yang terus nyambung, sampai mereka bisa berdiri sendiri dengan kepala tegak. 

"Santunan itu bensin darurat. Harapan terbesarnya adalah membuat mesin desanya menyala sendiri pelan-pelan," pungkas Zaini. (RS/Toni)