![]() |
| Muhammad Aiman, santri Ponpes Irsyadul Mujahidin NW Teliah Sakra Selatan, kembali terpilih sebagai anggota Tim Paduan Suara Nasional Gita Bahana Nusantara |
Bagi Aiman dan tiga rekannya sesama perwakilan NTB, ini bukan soal bakat semata. Ini kisah tentang ketekunan selama tiga tahun berturut-turut mengikuti seleksi, hingga akhirnya nama NTB kembali berkumandang di panggung paling sakral se-Indonesia.
Kabar membanggakan itu datang setelah pengumuman hasil seleksi nasional. Dari ribuan pendaftar se-Indonesia, hanya 240 penyanyi terbaik yang lolos. Dan NTB berhasil mengirim 4 wakil.
Mereka adalah Muhammad Farid Firdaus dari Kota Mataram, mahasiswa Universitas Mataram. Muhammad Aiman dari Lombok Timur, santri Ponpes Irsyadul Mujahidin NW Teliah yang juga mahasiswa UIN Mataram. Lalu Josefina Alexandra Virena dan Pramesti Dyah Pitaloka, keduanya dari Kota Mataram, mahasiswa Universitas Bumigora.
![]() |
| Putra-putri NTB terpilih sebagai paduan suara Gita Bahana Nusantara di perayaan 17 Agustus 2026 mendatang |
Tidak ada yang instan. Perjuangan mereka dimulai sejak 2024. Tahun pertama dan kedua, mereka gugur. Tahun ketiga ini, usaha tidak mengkhianati hasil.
Seleksi berjenjang itu dimulai dari tingkat kabupaten/kota. Pemenangnya maju ke tingkat provinsi. Di NTB, dari puluhan peserta, 28 orang lolos ke tahap provinsi.
Tahapan paling berat adalah uji _prima vista_ membaca notasi angka dan notasi balok secara langsung tanpa latihan dulu. Ditambah uji vokal di hadapan juri.
"Ini seleksi paling menantang. Peserta harus menguasai puluhan lagu dalam waktu singkat selama karantina nasional nanti," kata Aiman. Sabtu (11/7/2026).
Setelah melewati semua itu, barulah diputuskan 4 orang terbaik yang akan mengibarkan nama NTB di Jakarta.
Di balik nama Muhammad Aiman, ada kerja keras satu pondok pesantren. Pembina Paduan Suara Ponpes Irsyadul Mujahidin NW Teliah, Lalu Muhamad Edwin, S.Pd., mengaku bangga. Menurutnya, keberhasilan ini adalah hasil dari latihan yang tidak pernah mengenal waktu.
"Anak-anak latihan pagi, siang, malam. Kapan pun ada waktu luang, mereka manfaatkan untuk mengasah vokal dan hafalan lagu," ungkap Edwin.
Lebih dari itu, dukungan dari pimpinan pondok menjadi energi besar. TGH. Akhyar Rosyidi, QH., S.Pd. disebut selalu turun langsung mengawasi. Mulai dari latihan rutin di pondok, sampai saat audisi tingkat Provinsi NTB di Taman Budaya Mataram.
"Beliau tidak pernah lepas kontrol. Selalu tanya perkembangan, selalu beri motivasi. Ini bukti bahwa pesantren tidak hanya mengurus ilmu agama, tapi juga ikut mencetak generasi yang berprestasi di bidang seni dan kebangsaan," tambah Edwin.
Bagi Ponpes Irsyadul Mujahidin NW Teliah, lolosnya Aiman ke Gita Bahana Nusantara bukan yang pertama. Santri di pesantren ini memang sudah punya tradisi kuat di bidang paduan suara. Dan tahun ini, tradisi itu kembali dilanjutkan.
Gita Bahana Nusantara bukan sekadar paduan suara biasa. Mereka adalah duta seni dan semangat kebangsaan yang akan mengiringi detik-detik Proklamasi di Istana Negara, di hadapan Presiden dan tamu negara.
Bagi keempat mahasiswa ini, tampil di sana adalah mimpi. Mimpi yang mereka kejar sejak 2024 dan baru tercapai tahun ini.
Keberhasilan mereka juga menjadi bukti nyata bahwa anak-anak NTB punya tempat di panggung nasional. Dengan kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah, keterbatasan bukan penghalang.
"Ini bukan hanya kebanggaan untuk kami, keluarga, dan pondok. Tapi untuk seluruh masyarakat NTB," ujar Aiman singkat saat dikonfirmasi.
Kini, mereka bersiap mengikuti karantina nasional. Puluhan lagu wajib dikuasai. Suara harus dijaga. Mental harus dikuatkan. Karena pada 17 Agustus nanti, suara mereka akan menggema bersama lagu-lagu kebangsaan di halaman Istana Merdeka.
Dari Sakra Selatan ke Istana Negara. Dari latihan di surau pesantren ke panggung kehormatan Republik. Selamat berjuang, Gita Bahana Nusantara NTB. (RS/Irjan)



