Daftar Isi [Tampil]

Nasipudin
Lahir tahun 1973 dari kesederhanaan di Kelayu, hidup Nasipudin adalah bukti bahwa ketekunan dan keikhlasan tidak pernah mengkhianati hasil. 

Awal Hijrah dan Perjuangan Rumah Tangga

Tahun 1990, Nasipudin melangkahkan kaki dari Kelayu ke Sambelia dengan harapan besar. Bermodal semangat, ia ikut proyek pembangunan jalan raya di Kecamatan Sambelia. Dua tahun kemudian, 1994, ia menetap dan dipersatukan dengan Husiani, putri dari Inak Hadri Sambelia.

Masa awal berumah tangga jauh dari kata mudah. Meski berprofesi sebagai tukang, demi kebutuhan sehari-hari ia rela masuk hutan mencari kayu bakar untuk dijual. Banyak air mata dan keringat yang mengiringi langkah mereka membangun rumah sederhana di tanah rantau.

Pintu Rezeki dan Amanah Masyarakat

Allah tak pernah tidur. Tahun 1996, kepercayaan masyarakat mulai datang. Nasipudin dipercaya membangun rumah warga. Di waktu yang sama, istri mengandung anak pertama mereka. Pesanan membangun rumah, membuat lemari dan kursi pun mengalir. Saat itu upahnya hanya Rp5.000 sehari, tapi baginya itu sudah cukup untuk menafkahi keluarga.

Kepercayaan terus mengalir. Tahun 2003 ia diamanahi menjadi Ketua RT di Dasan Tinggi. Dua tahun berselang, 2005, ia menjadi marbot Masjid Baiturrahman secara ikhlas tanpa pamrih.

Tahun 2007, masyarakat Gubuk Daya Dasan Tinggi kembali memberi amanah besar. Nasipudin terpilih menjadi Kepala Dusun dengan kemenangan telak. Ia menjalaninya hingga 2011, lalu mundur karena pemekaran wilayah.

Semangat belajarnya tak padam. Tahun 2013 ia melanjutkan kuliah di IAIH Pancor cabang Pringgabaya, sambil tetap bekerja sebagai tukang demi menghidupi keluarga.

Nasipudin kala jadi kuli bangunan
Pengabdian Tanpa Henti

Pengabdian untuk desa terus ia jalani. Tahun 2012 ia dipercaya sebagai anggota BPD Pengganti Antar Waktu, lalu terpilih kembali untuk periode 2013–2018. Sejak 2019 hingga kini, ia aktif mengabdi secara sukarela di Kantor Urusan Agama Kecamatan Sambelia.

Hatinya selalu dekat dengan agama dan masyarakat. Sejak 2019 ia aktif di berbagai lembaga sosial keagamaan dan dipercaya menjadi Ketua Forum TPQ se-Kecamatan Sambelia. Ia juga tergabung dalam BKPRMI, BKPAKSI, Pokja TPQ, FKPQ, DMI, LPTQ, HKPA, dan pengurus Air Bersih. Semua dijalani tanpa mengharap gaji, hanya untuk silaturahmi dan manfaat bagi sesama.

Nasipudin sadar penghasilannya tidak tetap. Kadang cukup, kadang pas-pasan, bahkan sering harus meminjam atau mengajukan bantuan demi kegiatan sosial. Namun keyakinannya kuat, bahwa  Allah Maha Adil. Di saat ia memberi, Allah selalu memberi jalan untuk keluarganya. Ia tetap mengajar anak-anak di TPQ tanpa iuran dan tanpa gaji.

Keluarga dan Harapan

Hingga 2026, Allah menitipkan 5 anak kepada Nasipudin dan Husiani: 4 putri dan 1 putra. 

Anak pertama sudah berkeluarga dan dikaruniai dua cucu. 

Anak kedua sedang menempuh S2 dengan beasiswa penuh. 

Anak ketiga masih kuliah. 

Dua anak bungsu masih bersekolah.

Alhamdulillah, pendidikan mereka terbantu dengan KIP dan bantuan pemerintah.

Ironi hidup datang di tahun 2026 ini. Statusnya dianggap "mampu" oleh pemerintah dan masyarakat karena dilihat dari luar, padahal penghasilannya hanya honor Ketua RT Rp200.000 per bulan untuk menanggung istri dan empat anak yang masih sekolah. Di saat yang sama ia kembali ditunjuk menjadi Ketua RT.

Pelajaran dari Sebuah Perjalanan

Begitulah kisah Nasipudin. Sederhana, penuh perjuangan, tapi kaya makna. Baginya hidup bukan soal seberapa besar harta, tapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.

"Semoga perjalanan ini menjadi pelajaran untuk tak pernah lelah berbuat baik, dan terus bermanfaat bagi orang-orang di sekitar," katanya.