![]() |
| KKN Tematik STMIK Sayikh Zainuddin NW Anjani saat sosialisasi anti bullying di SD Negeri 02 Desa Ketapang Raya. |
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Kelompok KKN STMIK SZ NW Anjani, Zurrahim, yang juga bertindak sebagai pemateri utama.
Menurut Zurrahim, memilih SD sebagai sasaran bukan tanpa alasan. Usia sekolah dasar adalah masa paling rawan terbentuknya perilaku perundungan, baik sebagai pelaku maupun korban.
"Anak-anak sekarang banyak mengakses media sosial. Kadang mereka meniru kata-kata kasar, mengejek teman karena fisik, nilai, atau status ekonomi. Kalau tidak diarahkan sejak dini, ini bisa kebawa sampai besar," ujar Zurrahim di sela kegiatan.
Selama hampir dua jam, materi disampaikan dengan cara interaktif. Tidak ada ceramah satu arah. Mahasiswa mengajak siswa bermain peran, menonton video singkat tentang dampak bullying, lalu berdiskusi. Pertanyaan-pertanyaan sederhana dilontarkan "Bagaimana rasanya diejek?", "Apa yang harus dilakukan kalau lihat teman dipalak?"
Antusiasme siswa terlihat. Beberapa anak dengan berani maju ke depan menceritakan pengalaman melihat temannya diejek karena berkacamata. Ada juga yang bertanya apakah mengomentari postingan teman dengan kata kasar di media sosial termasuk bullying.
Kepala SD Negeri 02 Ketapang Raya menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menyebut sosialisasi ini tepat waktu, di awal tahun ajaran baru. "Kami sangat berterima kasih. Guru tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan dari mahasiswa dan kampus untuk menguatkan pendidikan karakter di sekolah," katanya.
Zurrahim menambahkan, sosialisasi ini adalah bagian dari program kerja KKN Tematik STMIK SZ NW Anjani di Desa Ketapang Raya. Selain anti bullying, kelompoknya juga menyasar program literasi digital, pelatihan desain untuk UMKM, dan penguatan organisasi pemuda desa.
Tiga poin penting ditekankan kepada siswa dalam sosialisasi tersebut:1. Kenali bentuk bullying. Tidak hanya memukul, tapi juga mengejek, mengucilkan, menyebar gosip, hingga komentar jahat di media sosial.
2. Berani melapor. Siswa diimbau tidak takut melapor ke guru atau orang tua jika menjadi korban atau saksi.
3. Jadi teman yang baik. Mulai dari hal kecil seperti tidak menertawakan teman, meminjamkan alat tulis, dan mengajak bermain semua teman tanpa membeda-bedakan.
Di akhir acara, mahasiswa dan siswa membuat komitmen bersama. Mereka menempelkan poster bertuliskan "Sekolah Kita, Rumah Kita. Tidak Ada Tempat Untuk Bullying" di mading sekolah."Harapan kami sederhana. Setelah kegiatan ini, anak-anak bisa lebih berani, lebih peduli, dan lebih saling menghargai. Kalau dari sekolah sudah terbangun budaya saling menghormati, maka desa juga akan ikut aman," tutup Zurrahim.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan pembagian stiker bertema anti bullying. Guru berharap kegiatan serupa bisa dilakukan rutin, agar pesan anti perundungan tidak berhenti hanya di satu hari. (RS/Toni)




