Daftar Isi [Tampil]


Lalu Ratmaji saat dipanggil ke BAZNAS NTB
MATARAM -  radarselaparang.com
|| Sejak 2021, Lalu Ratmaji sudah hafal betul hiruk pikuk Jalan Rembiga - Gunung Sari. Setiap hari ia berdiri di tengah kepadatan, mengatur arus kendaraan dengan isyarat tangan dan peluit. Bukan petugas resmi, ia melakukannya secara sukarela dan menerima pemberian seikhlasnya dari para pengendara.

Lelaki asal Gubuk Kute Timuk, Dusun Montong Sari, Desa Sakra Pusat, Kecamatan Sakra itu merantau ke Kota Mataram dengan satu tujuan sederhana, menyambung hidup dan membiayai ibunya yang sudah renta dan sakit-sakitan di kampung.

Keteguhan itulah yang akhirnya mengantarkannya ke kantor BAZNAS Nusa Tenggara Barat di dekat Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, Ahad (13/9/2026). 

"Alhamdulillah ketua BAZNAS NTB nyuruh tiang kemarin menghadap ke kantor BAZNAS NTB yang ada di dekat lapangan Sangkareang Kota Mataram. Ada rejeki zakat buat bayar kos juga," ungkap Lalu Ratmaji.

Di pagi hari dirinya menjadi juru atur lalulintas dan di sore harinya jadi pengaman di salah satu SPPG MBG di wilayah setempat.

Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian dari Ketua BAZNAS NTB.

Bantuan zakat itu datang setelah kisahnya sampai ke telinga pimpinan BAZNAS NTB. Ketua BAZNAS NTB, Lalu Iqbal Murad, menyebut Lalu Ratnaji sebagai sosok pemuda tangguh yang tetap bertanggung jawab pada keluarga di tengah keterbatasan.

"Ia tetap tegar dan tidak meminta-minta tetapi bekerja dengan tenaganya sebagai juru pengatur lalu lintas," ucap Lalu Iqbal Murad.

Menurutnya, semangat seperti itu yang perlu diapresiasi. Bekerja halal, tidak mengeluh, dan tetap mengutamakan orang tua. BAZNAS hadir untuk memastikan dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat sampai kepada orang-orang yang benar-benar berjuang seperti Lalu Ratnaji.

Jalan Rembiga - Gunung Sari memang dikenal sebagai salah satu titik padat di Kota Mataram. Kehadiran Lalu Ratnaji di sana sudah akrab di mata pengendara. Dengan rompi seadanya, ia membantu mengurai kemacetan, menyeberangkan anak sekolah, dan mengatur kendaraan agar tidak saling berdesakan. 

Imbalannya tidak seberapa, hanya receh seikhlasnya yang dikumpulkan untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatan ibunya di Sakra.

Kini, dengan adanya perhatian dari BAZNAS NTB, beban yang dipikulnya sedikit berkurang. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan biaya hidup dan perawatan ibunya.

Kisah Lalu Ratnaji menjadi pengingat bahwa di tengah kota yang sibuk, masih ada orang-orang yang berjuang diam-diam demi keluarga. Tidak meminta belas kasihan, hanya mengandalkan tenaga dan kejujuran di tengah jalan.

BAZNAS NTB berharap perhatian ini juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli. Karena zakat yang ditunaikan tepat sasaran, bisa menjadi penopang hidup bagi mereka yang terus berusaha, seperti pemuda dari Sakra yang kini menjaga lalu lintas di Rembiga. (RS)