Daftar Isi [Tampil]

Puing-puing rumah Abdurrazak warga Dusun Waso Desa Santar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang rata dengan tanah.
MANGGARAI TIMUR - radarselaparang.com || Kisah Pilu Abdurrazak warga Dusun Waso, Desa Santar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) tanah terbelah, dinding roboh, atap runtuh. Dalam hitungan detik rumah rata dengan tanah dihantam Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Manggarai Timur Pukul 05.58 WIB, Jumat 15 Agustus 2026 yang lalu.

Nasib yang sama dialami lebih dari 300 rumah warga lain di kampung itu. Rusak berat. Sebagian rata. Tidak ada yang bisa diselamatkan.

Saat itu istri Abdurrozak masih hamil muda tiga bulan. Anak pertamanya masih balita dan membutuhkan nutri susu. Tidak ada waktu untuk mengemas pakaian, menyelamatkan dokumen, atau mengambil harta. Yang ia lakukan hanya menggendong anak, menarik tangan istri, dan berlari keluar sebelum seluruh bangunan ambruk menimpa.

"Kami keluar dengan badan saja. Semua tertinggal di dalam," ucapnya pelan.

Hampir sebulan berlalu sejak bencana. Hingga Selasa (8/9/2026) Abdurrozak dan keluarga kecilnya masih bertahan di tenda pengungsian bersama ratusan warga kampung. Hidup berpindah dari terpal ke terpal. Siang gerah, malam menggigil, hujan masuk menembus sela-sela.

Kebutuhan paling mendesak bukan beras atau mie instan. Yang ia butuhkan adalah susu bayi, popok, makanan bergizi untuk ibu hamil, dan perlengkapan perempuan.

"Kami sangat berharap bantuan berupa kebutuhan anak dan perempuan. Dan itu sangat mendesak saat ini," ungkapnya dengan nada serak.

Bantuan yang datang dari pihak sukarela masih pas-pasan. Tidak cukup untuk menutup kebutuhan sebulan penuh. Setiap hari Abdurrozak harus menghitung, mana yang didahulukan. 

Di depan tenda, ia sering menatap ke arah reruntuhan rumahnya. Tidak ada lagi pintu. Tidak ada lagi dapur tempat istrinya memasak. Yang ada hanya puing yang ia kais setiap pagi untuk mencari barang yang masih bisa dipakai.

"Yang kami punya saat ini hanya harta yang melekat di badan saja dan sisa barang yang kami kais di puing-puing rumah," katanya.

Bagi Abdurrozak, gempa itu tidak hanya merobohkan rumah. Ia merobohkan masa depan. Hasil kerja bertahun-tahun hilang. Tabungan habis. Harapan satu-satunya kini bergantung pada pemerintah.

"Harapan saat ini hanya bergantung pada pemerintah daerah, provinsi dan utamanya pemerintah Pusat bisa merekonstruksi kembali rumah tempat tinggal kami. Hanya itu harapan terakhir karena sudah tidak memiliki harta," ujarnya.

Ia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin ada atap yang bisa melindungi istri yang sebentar lagi melahirkan. Ia ingin anaknya tumbuh di rumah, bukan di tenda pengungsian.

"Kami berharap pemerintah pusat segera melirik kondisi kami dan membantu warga kampung kami membangun kembali rumah yang telah rata dengan tanah," pintanya.

Data sementara menunjukkan lebih dari 300 rumah di Dusun Waso dan sekitarnya rusak berat hingga rata dengan tanah. Warga masih bertahan di pengungsian dengan keterbatasan air bersih, sanitasi, dan akses kesehatan.

Pemerintah daerah sudah hadir di masa tanggap darurat. Namun bagi Abdurrozak, itu belum cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah kepastian. Kepastian bahwa rumah akan dibangun kembali. Kepastian bahwa warga Waso tidak akan dilupakan setelah kamera media pergi.

Di tengah reruntuhan, Abdurrozak masih menyimpan harapan. Harapan sederhana seorang ayah. Agar istrinya bisa melahirkan dengan tenang. Agar anaknya bisa tidur di kamar sendiri. Agar ia bisa kembali menyebut satu tempat sebagai rumah.

"Tolong bantu kami. Kami sudah tidak punya apa-apa lagi selain harapan," tutupnya. (RS)