![]() |
| Penguatan Kelembagaan IAII Yanmu NW yang digelar di Gedung Rektorat IAII Yanmu NW, Praya, Lombok Tengah |
Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag. Dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan Keputusan Menteri Agama KMA kepada Rektor IAII Yanmu NW sebagai bentuk amanah dari Kementerian Agama.
Dalam arahannya, Prof. Arskal menegaskan legalitas kelembagaan bukan tujuan akhir. Tantangan terbesar justru dimulai setelah KMA diterima.
“Apa kontribusi kampus baru bagi masyarakat di Lombok, NTB, dan Indonesia?” ujarnya menjadi pertanyaan kunci yang harus dijawab IAII Yanmu NW ke depan.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya memiliki gedung, program studi, dan mahasiswa. Kampus harus mampu melahirkan lulusan dan pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Prof. Arskal memaparkan enam pilar penting yang harus menjadi perhatian IAII Yanmu NW dalam membangun institusi.
Pertama, kelembagaan yang sehat dan profesional. Pengelolaan administrasi harus tertata lengkap. Ia juga mendorong percepatan akreditasi sejak dini, bahkan sebelum wisuda mahasiswa pertama, agar mutu institusi terjaga sejak awal.
Kedua, pembangunan sumber daya manusia unggul. Kualitas perguruan tinggi ditentukan oleh dosen. Peningkatan jumlah dan kualitas dosen bergelar doktor menjadi indikator penting agar IAII Yanmu NW memiliki daya saing akademik.
Ketiga, menyiapkan mahasiswa menghadapi era kecerdasan buatan. Perguruan tinggi harus membangun ekosistem pendidikan yang membekali mahasiswa dengan kompetensi relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan.
Keempat, membangun keunggulan berbasis lokal. IAII Yanmu NW diminta tidak kehilangan akar sosial dan budaya di Lombok dan NTB. Salah satu contohnya, program studi seperti akuntansi bisa dikembangkan dengan kekhususan pada sektor halal tourism yang menjadi potensi besar daerah.
Kelima, membangun ekosistem kemitraan. Kampus tidak bisa berjalan sendiri. Kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu diperkuat untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian, sekaligus membuka ruang pengalaman bagi mahasiswa.
Keenam, menempatkan mahasiswa sebagai pusat transformasi. Mahasiswa tidak hanya disiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang. Pendidikan harus diarahkan pada penguasaan ilmu, pembentukan karakter, kreativitas, kemandirian, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Penyerahan KMA menjadi momentum penting bagi IAII Yanmu NW. Namun Prof. Arskal mengingatkan agar institusi tidak cepat berpuas diri.
“Akhirnya KMA sudah diterima, tetapi jangan cepat puas, karena ini adalah awal perjuangan,” tegasnya.
Ia mendorong seluruh sivitas akademika berani memiliki visi besar. “Jangan takut bermimpi besar, karena institut ini adalah modal untuk berkontribusi bagi Lombok, NTB, dan Indonesia.” tutupnya.
Dengan diterimanya KMA dan penguatan kelembagaan yang terus dilakukan, IAII Yanmu NW kini memasuki fase pembuktian. Legalitas menjadi pintu masuk, sementara kualitas, kontribusi, dan kebermanfaatan menjadi perjalanan panjang yang harus ditunjukkan kepada masyarakat. (RS)


