Lombok Timur - radarselaparang.com || Keprihatinan soal jajanan sekolah yang berwarna menyala akhirnya dijawab dengan aksi nyata. Komite dan Kepala Sekolah SDN 02 Sambelia menggelar sosialisasi ketahanan dan keamanan pangan sekolah, berlangsung di aula kelas SDN 02 Sambelia. Rabu (16/9/2026)
SDN 02 Sambelia saat menggelar sosialisasi ketahanan dan keamanan pangan sekolah
Ini menjadi yang pertama di Kecamatan Sambelia. Tidak hanya dihadiri guru dan wali murid, acara juga melibatkan Kanit Dikbud Kecamatan Sambelia, Kepala Dusun, para pedagang sekolah, serta petugas Puskesmas.
Acara dipandu Kepala SDN 02 Sambelia Syamsul Yamin, S.Ag. Ia menyebut ide ini langsung lahir begitu pengurus Komite baru terbentuk. Dikatakan naru beberapa hari terbentuk pengurus Komite, langsung ada ide dan gagasan yang diprogramkan seperti hari ini.
"Baru pertama SDN 02 yang melaksanakan sosialisasi kegiatan ini," ujarnya membuka acara.
Peringatan keras datang dari Kanit UPTD Dikbud Kecamatan Sambelia, Saepudin, S.Pd. Ia menyoroti banyaknya anak usia sekolah yang kini menderita penyakit berat.
"Saudara-saudara, kini kita melihat hal yang sungguh memprihatinkan. Anak-anak yang masih kecil pun sudah menderita penyakit berat seperti gagal ginjal. Mengapa? Karena sejak dini terbiasa mengonsumsi minuman dan makanan dengan pewarna berlebihan, warnanya pekat dan mencolok," katanya.
Menurutnya, suhu panas dan debu yang beterbangan membuat risiko semakin tinggi jika makanan tidak ditutup. Ia meminta pedagang tidak menunggu sempurna, cukup mulai dari kebersihan 85 persen.
"Kalau para pedagang mau berhati-hati menjaga kualitas makanan yang dijual, insya Allah kita telah menanamkan kebaikan besar bagi masa depan anak-anak," ucapnya.
Ketua Komite SDN 02 Sambelia, Achmad Subandi, SE, meluruskan, kegiatan ini bukan untuk mematikan rezeki pedagang. Justru untuk menjaga keberlangsungan dagang dengan cara yang sehat.
"Kami tidak melarang, kami mengajak menyelesaikan persoalan yang sudah lama jadi keluhan masyarakat," tegasnya.
Ia menjelaskan empat pilar ketahanan pangan di sekolah, yakni ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas. Makanan harus bergizi, terjangkau, dan aman setiap hari.
Fakta di lapangan, kata dia, masih banyak lapak tidak higienis, bahkan ada yang berjualan dekat tempat pembuangan sampah. Ia mengusulkan pedagang ditempatkan di dalam atau samping lingkungan sekolah, di tempat yang sudah disiapkan, tertata rapi, bersih, dan terjaga.
"Masuk lewat gerbang yang ditentukan, tidak melintasi halaman atau tempat olahraga, agar mudah dipantau," jelasnya.
Semua tetap boleh berdagang, termasuk keluarga penjaga sekolah, asal mengikuti kebijakan kepala sekolah. Camilan dengan kadar gula dan zat aditif tinggi diminta dikurangi.
Sementara itu, tim Puskesmas Sambelia yang turun langsung ke TK, SD, hingga SMP mengungkap empat temuan penting.
Pertama, masalah air minum. Banyak anak kurang minum air bersih. Puskesmas sudah mengambil sampel air dan memeriksa dengan reagen khusus, termasuk bekerja sama dengan Pemdes.
Kedua, keamanan makanan. Bakso, tahu, tempe, dan jajanan lain diperiksa bersama kader PKK.
Ketiga, kebersihan dan kantin. Banyak anak mengeluh sekolah tidak bersih, pakaian pulang dalam keadaan kotor. Tempat jualan yang terbuka dinilai berbahaya karena satu ekor lalat membawa ribuan bakteri.
Keempat, minuman berwarna. Di SMP bahkan ditemukan minuman serbuk manis dan sirup buatan dengan warna sangat pekat. Puskesmas menyarankan diganti susu segar, air putih, atau minuman alami.
"Es boleh dijual, asal airnya bersih dan tidak dicampur bahan pewarna berlebihan," ujar petugas Puskesmas.
Usulan akhirnya disepakati bersama dalam diskusi. SDN 02 Sambelia akan membangun kantin sekolah sebagai pusat berjualan yang rapi dan terkontrol. Pedagang wajib menyiapkan tempat sampah sendiri, dan jam belanja diatur setelah siswa selesai sapu bersih kelas.
Langkah kecil dari SDN 02 ini diharapkan jadi contoh. Bukan sekadar soal dagang, tapi soal menjaga ginjal, perut, dan masa depan anak-anak Sambelia. (RS/acip)

