![]() |
| Lalu Ratmaji Pemuda asal Gubuk Kute Timuk, Dusun Montong Sari, Desa Sakra Pusat, Kecamatan Sakra itu merantau ke Kota Mataram sejak 2021 untuk mencari nafkah. |
Pemuda asal Gubuk Kute Timuk, Dusun Montong Sari, Desa Sakra Pusat, Kecamatan Sakra itu merantau ke Kota Mataram sejak 2021 untuk mencari nafkah.
Keputusan itu lahir dari kondisi rumah. Ibunya kini berusia 75 tahun dan sering sakit-sakitan. Sang ayah sudah meninggal dunia 8 tahun lalu. Sebagai anak bujang, Ratmaji menggantikan peran sebagai tulang punggung keluarga.
"Keadaan ekonomi di rumah susah. Mamik tiang meninggal dunia 8 tahun yang lalu. Tiang gantikan sebagai tulang punggung keluarga. Inak tiang sudah lanjut usia umur 75 tahun sering sakit-sakitan. Jadi penyemangat dalam hidup tiang. Makanya mutuskan cari pekerjaan ke Kota Mataram," ceritanya.
Usaha tidak mengkhianati hasil. Ratmaji kini bekerja sebagai relawan pengatur lalu lintas di perempatan Indomaret Jalan Halmahera, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram.
Setiap hari ia kos di Desa Midang, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. Jarak dari kos ke tempat bertugas sekitar 1 kilometer. Rute itu ditempuhnya dengan jalan kaki.
Jalan Rembiga - Gunung Sari dikenal padat, sempit, dan macet tiap hari. Di tengah kesibukan itulah Ratmaji berdiri mengatur arus kendaraan.
Meski hanya relawan, kebaikan warga membuatnya bertahan. Banyak pengendara yang memberinya uang seikhlasnya sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu melancarkan lalu lintas.
"Banyak orang-orang baik yang kasih uang seikhlasnya. Tanda terima kasih sudah dibantu nyebrang jalur jalan raya Rembiga - Gunung Sari ini," ujarnya.
Bagi Ratmaji, setiap rupiah yang diterima bukan sekadar upah. Itu bekal untuk mengobati ibunya di Sakra dan memastikan dapur di rumah tetap mengepul.
Kisahnya menjadi potret anak desa yang memilih berjuang di kota. Demi keluarga, demi ibu yang sudah lanjut usia, sejauh apa pun dan seberat apa pun, tetap dijalani. (RS)


