LOMBOK TIMUR - radarselaparang.com || Tanpa gedung megah, tanpa perpustakaan mewah, kegiatan literasi tetap bisa tumbuh. Hal itu dibuktikan Sahabat Literasi di Moyot Daya, Lombok Timur, Kamis (24/9/2026).
Sahabat Literasi mendekatkan buku langsung ke lingkungan anak.
Sekitar pukul 13.30 WITA, sekitar 20 anak berkumpul di salah satu rumah warga. Mereka duduk bersama, membuka buku cerita dan bacaan bergambar yang dibawa Sahabat Literasi. Suasana sederhana, tidak formal, tapi antusiasme anak-anak begitu terasa.
Kegiatan ini menjadi cara Sahabat Literasi mendekatkan buku langsung ke lingkungan anak. Buku tidak hanya harus ada di sekolah atau perpustakaan, tapi bisa hadir di ruang-ruang sederhana tempat anak-anak biasa berkumpul.
Founder Sahabat Literasi Rendi Andrian mengatakan, kebiasaan membaca bisa dimulai dari ruang terdekat dengan memanfaatkan apa yang ada.
"Yang ingin kami bangun adalah kebiasaan membaca. Tidak harus menunggu tempat yang besar atau fasilitas yang lengkap. Ketika anak-anak memiliki akses terhadap buku dan ada ruang untuk membaca bersama, kegiatan literasi sudah bisa dimulai," ujarnya.
Rendi menegaskan, membaca bukan hanya urusan anak-anak, tapi kebiasaan yang harus dimiliki semua kalangan. Namun ia menyayangkan, kini membaca sering dianggap membosankan bahkan memalukan.
"Membaca ini bukan hanya untuk anak-anak, tetapi untuk semua kalangan. Kita ingin membaca kembali menjadi sebuah kebiasaan. Hanya saja, saat ini membaca terkadang bukan lagi dianggap sebagai kebutuhan. Bahkan ada yang menganggap membaca itu membosankan, atau merasa malu ketika terlihat sedang membaca. Padahal, membaca seharusnya menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari," katanya.
Karena itu, Sahabat Literasi sengaja menghadirkan kegiatan membaca yang sederhana dan menyenangkan agar membaca kembali menjadi aktivitas yang wajar dan tidak hanya dilakukan saat ada tuntutan pendidikan.
Ke depan, Sahabat Literasi berencana terus memperluas kegiatan serupa ke desa dan lingkungan lain. Pihaknya pun membuka ruang kolaborasi bagi siapa saja yang peduli pada pengembangan literasi.
"Kami sangat terbuka jika ada desa atau lingkungan lain yang ingin menghadirkan kegiatan literasi seperti ini. Kami ingin bergerak bersama, supaya ruang-ruang membaca bisa semakin banyak. Bukan hanya anak-anak yang membaca, tetapi semua kalangan bisa kembali menjadikan membaca sebagai kebiasaan," tutup Rendi. (RS)

