Daftar Isi [Tampil]

Tim verifikasi Mahyani BAZNAS Lombok Timur di Gili Beleq, Desa Pare, Jerowaru.
LOMBOK TIMUR - radarselaparang.com || Perahu kecil membelah laut Jerowaru Selasa (8/9/2026). Di dalamnya ada tim BAZNAS Kabupaten Lombok Timur. Tujuannya bukan wisata. Mereka menyeberang ke Gili Beleq, Desa Pare, untuk satu urusan. Menjemput data, dan mengantar harapan.

Gili Beleq termasuk wilayah yang jarang disentuh program bantuan. Akses hanya lewat laut. Listrik terbatas. Rumah warga banyak yang sudah lapuk dimakan usia dan angin laut. Tapi bagi BAZNAS Lotim, jauh bukan alasan.

Melalui Program MAHYANI, Rumah Layak Huni, tim turun langsung melakukan verifikasi calon penerima manfaat. Dipimpin Kepala Bagian Pendistribusian dan Pendayagunaan Muh. Munir Fauzi, M.Pd, bersama Kasubag Informasi dan Komunikasi Muh. Faizun Fikri, M.AP, mereka berjalan dari satu rumah ke rumah lain.

Pintu diketuk. Atap dilihat. Lantai diraba. Tim mencatat, bertanya, dan mendengarkan cerita keluarga.

"Kami ingin memastikan masyarakat di wilayah terpencil, termasuk di pulau-pulau kecil, tetap dapat perhatian. Jarak dan kondisi geografis tidak boleh jadi penghalang kami hadir," kata Muh. Munir Fauzi.

Bagi BAZNAS, MAHYANI bukan sekadar membangun tembok. Ini soal martabat.

"Rumah adalah kebutuhan dasar. Tempat berlindung, tempat anak tumbuh. Lewat MAHYANI kami ingin warga yang rumahnya tidak layak bisa hidup lebih aman dan lebih baik," jelasnya.

Agar bantuan tepat sasaran, proses verifikasi dilakukan ketat. Data lapangan dicocokkan. Tidak ada titipan, tidak ada pilih kasih.

Muh. Faizun Fikri menyebut, turun langsung adalah cara menjaga akuntabilitas.

"Kami tidak mau data hanya dari kertas. Harus dari fakta. Harus dari rumah yang kami lihat sendiri. Itu bentuk tanggung jawab kepada para muzaki," ujarnya.

Perjalanan ke Gili Beleq, menurutnya, adalah cermin. Bahwa dana Zakat, Infak, dan Sedekah harus mampu menjangkau yang paling jauh.

"Semangat kami sederhana. Jangan sampai ada yang tertinggal hanya karena rumahnya berada di seberang laut," katanya.

Salah satu calon penerima manfaat menyambut tim dengan mata berkaca. Ia tak menyangka ada yang mau datang jauh-jauh.

"Kami bersyukur sekali. Tidak pernah kebayang BAZNAS datang sampai ke sini. Rumah kami memang sudah tidak layak. Bocor kalau hujan. Kami berharap sekali bisa dapat bantuan rumah lewat MAHYANI," ucapnya lirih.

Hari itu, BAZNAS Lotim pulang membawa catatan dan janji. Catatan tentang kondisi nyata di Gili Beleq. Janji bahwa zakat akan diwujudkan menjadi dinding yang lebih kuat, atap yang tidak bocor, dan tidur malam yang lebih tenang.

Karena di ujung laut Jerowaru, ada keluarga yang menunggu. Dan zakat, harus sampai ke sana.