![]() |
| Kepala MTsN 2 Lombok Timur, H. Suparman, S.S., M.Pd.I, saat menjadi pemateri imtaq. |
Kepala MTsN 2 Lombok Timur, H. Suparman, S.S., M.Pd.I, menjadi pemateri. Ia menyampaikan kajian Hadist Arbain Nawawi hadist kedua, yang dikenal sebagai Hadist Jibril. Hadist tersebut membahas tentang Islam, Iman, Ihsan, serta tanda-tanda datangnya hari kiamat.
Dalam penyampaiannya, H. Suparman menjelaskan bahwa hadist ini memuat pokok-pokok ajaran Islam. Di dalamnya dijelaskan tentang rukun Islam, rukun Iman, makna Ihsan, hingga tanda-tanda menjelang kiamat.
Ia menegaskan bahwa waktu terjadinya hari kiamat adalah rahasia Allah SWT. Tidak seorang pun mengetahuinya, termasuk Rasulullah SAW. Karena itu, umat Islam tidak diperintahkan mencari tahu kapan kiamat terjadi.
“Yang harus kita persiapkan bukan kapan hari kiamat itu datang, tetapi bagaimana keadaan kita ketika menghadap Allah SWT. Bekal terbaik adalah iman, ilmu, akhlak, dan amal saleh,” ujar H. Suparman. Jumat (11/9/2026).
Lebih lanjut ia menguraikan beberapa tanda kiamat yang disebut dalam Hadist Jibril. Di antaranya seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan orang-orang yang sebelumnya hidup sederhana berlomba-lomba mendirikan bangunan tinggi dan megah.
Tanda-tanda itu, katanya, menjadi pengingat agar manusia tidak terlena oleh gemerlap dunia dan terus mempersiapkan bekal akhirat.
Di akhir kajian, H. Suparman menjelaskan tujuan kedatangan Malaikat Jibril dalam hadist tersebut. Kedatangannya untuk mengajarkan dasar-dasar agama kepada umat Islam. Melalui dialog antara Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW, umat Islam mendapatkan pemahaman utuh tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Karena itu Hadist Jibril menjadi salah satu landasan utama dalam memahami rukun Islam dan rukun Iman.
Melalui kegiatan Imtaq, MTsN 2 Lombok Timur berkomitmen membentuk generasi madrasah yang memiliki pemahaman agama kuat, berakhlak mulia, serta mampu mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga menjadi sarana menanamkan kecintaan terhadap ilmu agama sebagai fondasi membangun karakter siswa.
Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh antusias. Para siswa mengikuti kajian dengan serius sebagai bagian dari upaya madrasah membentuk generasi yang beriman, berilmu, berprestasi, dan berakhlakul karimah. (RS/toni)


