Lombok Timur - radarselaparang.com || Masyarakat Desa Sambelia kembali akan menggelar tradisi tahunan Selamatan Adat Otak Reban, direncanakan pada Senin 19 Oktober 2026 besok, di area Dam Sambelia. Tradisi yang digelar setiap bulan Oktober ini menjadi penanda dimulainya musim tanam bagi petani.
Desa Sambelia kembali akan menggelar tradisi tahunan Selamatan Adat Otak Reban
Acara akan berlangsung meriah dengan pawai 100 dulang dan iringan kesenian Gendang Beleq. Pemuda, tokoh masyarakat, dan pemangku adat tumpah ruah mengikuti prosesi.
Ketua Panitia sekaligus Ketua GP3A, Teja Prawisudawan, menjelaskan bahwa tradisi ini bertujuan memohon keberkahan dan turunnya hujan. Secara adat, petani di lima desa belum diperbolehkan membajak sawah sebelum selamatan ini dilaksanakan.
Lima desa tersebut berada dalam wilayah pengairan Kokok Sambelia yang mencakup 13 P3A, yaitu Desa Sambelia, Bagik Manis, Senangali, Labuan Pandan, dan Dadap. Dari total 1.660 hektar wilayah, seluas 1.330 hektar terairi berkat aliran Sungai Kokok Sambelia."Rangkaian acara diawali dengan gotong royong membersihkan saluran sungai dan irigasi. Dilanjutkan dengan ritual pengambilan air di Makam Santri Loba, zikir bersama, hingga puncak acara," ungkapnya. Ahad (18/10/2026)
Puncak acara direncanakan akan dihadiri Bupati Lombok Timur, H. Herul Warisin, jajaran dinas terkait, Camat Sambelia, serta para ketua P3A. Ketua Adat sekaligus Kepala Desa Sambelia, H. Moh. Kahar, akan memimpin langsung jalannya prosesi adat.
Bagi masyarakat, Selamatan Otak Reban bukan sekadar tradisi. Ini adalah bentuk syukur atas warisan sistem irigasi dari Santri Loba yang hingga kini telah memberi kehidupan bagi lahan pertanian masyarakat Sambelia. (RS/acip)


