![]() |
| Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menuju lokasi Gawe Adat Selametan Otak Reban. |
Bagi Bupati yang akrab disapa H. Iron ini menyebut aliran sungai yang tak pernah putus di musim kemarau itu bukan kebetulan. Ini wujud keberkahan yang diberikan Allah SWT kepada masyarakat Sambelia.
"Maka Selamatan Otak Reban ini adalah momen syukur bersama,"ujar Bupati H. Iron.
Bupati H. iron membandingkan. Di saat daerah lain sibuk berebut air, Sambelia bisa tersenyum karena warganya merawat alamnya. Tidak ada tebang liar, tidak ada perusakan hutan di hulu.
Tradisi Otak Reban sendiri bukan sekadar seremonial. Bagi petani Sambelia, hari itu adalah penanda dimulainya musim tanam padi, saat cangkul kembali turun dan benih mulai disebar.
Kepala Desa sekaligus Ketua Adat Sambelia H. Moh. Kahar mengaku bahagia kehadiran Bupati menjadi berkah ganda bagi petani. Namun ia juga menyelipkan harapan, jalan usaha tani yang rusak perlu segera diperbaiki agar hasil panen bisa diangkut lebih mudah.
Ia juga menyebut bantaran sungai yang dulu hanya untuk irigasi, kini berubah menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar Sambelia.
Bupati menjawab harapan itu dengan penegasan, pemerintah bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani.
"Pemerintah harus menjadi tempat bagi masyarakat untuk mengadu dan menyampaikan aspirasinya," tegasnya.
Acara pun ditutup dengan suasana haru, penyerahan santunan kepada anak yatim secara simbolis di tengah syukur atas air yang terus mengalir. (RS)


