Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda NW Lombok Timur
(Generasi Muda Nahdlatul Wathan)
OPINI - 91 tahun Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) bukan sekadar angka yang menandai perjalanan waktu. Ia adalah catatan panjang perjuangan, pengabdian, dan ikhtiar membangun peradaban melalui pendidikan Islam. Sembilan puluh satu tahun merupakan bukti bahwa sebuah cita-cita besar, ketika diperjuangkan dengan keikhlasan, keteguhan, dan semangat pengabdian, mampu melampaui zaman dan terus memberikan pengaruh bagi kehidupan umat.
Pada Ahad, 11 Oktober 2026, keluarga besar Nahdlatul Wathan kembali memperingati Hultah ke-91 Madrasah NWDI di Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani, Lombok Timur. Momentum ini tidak semestinya hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga ruang refleksi untuk membaca kembali sejarah, mengevaluasi perjalanan, dan merumuskan arah perjuangan pendidikan Nahdlatul Wathan di masa depan.
Madrasah NWDI yang didirikan oleh Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tahun 1937 lahir dari kesadaran bahwa pendidikan merupakan jalan strategis untuk membangun martabat manusia. Di tengah keterbatasan dan tantangan zamannya, beliau menanamkan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan, pendidikan agama, dan pembentukan akhlak merupakan fondasi penting bagi kebangkitan umat.
Dari semangat itulah NWDI tumbuh menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat. Perjuangan tersebut tidak hanya menghadirkan ruang belajar, tetapi juga membangun kesadaran sosial, memperkuat nilai keagamaan, dan membuka jalan bagi lahirnya generasi yang mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
Jangan Hanya Bangga pada Sejarah, tetapi Lanjutkan Perjuangannya
Sebagai generasi muda Nahdlatul Wathan, kita patut bangga terhadap warisan perjuangan para pendiri. Namun, kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh berhenti pada cerita masa lalu, simbol organisasi, atau kemeriahan perayaan Hultah. Kebanggaan itu harus diwujudkan melalui kerja nyata dan keberanian menjawab tantangan zaman.
Kita perlu menyadari bahwa semakin panjang usia sebuah lembaga pendidikan, semakin besar pula tanggung jawab moral yang melekat di dalamnya. Sembilan puluh satu tahun NWDI harus menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Jika generasi terdahulu berjuang membangun madrasah di tengah keterbatasan, maka generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat daya saing lulusan, serta memastikan bahwa madrasah tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Menghormati Maulana Syaikh bukan hanya dengan mengenang nama dan jasa beliau, melainkan dengan menghidupkan nilai perjuangannya: keikhlasan, ketekunan menuntut ilmu, kedisiplinan, kemandirian, kepedulian terhadap umat, dan komitmen terhadap pendidikan.
Warisan terbesar seorang pendiri bukanlah sekadar bangunan yang berdiri kokoh, melainkan nilai-nilai yang terus hidup dalam pikiran, karakter, dan tindakan generasi penerusnya.
Menjaga Tradisi, Menjawab Tantangan Zaman
Kita hidup pada era perubahan yang berlangsung sangat cepat. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, persaingan global, perubahan pola komunikasi, dan tantangan moral generasi muda menghadirkan persoalan baru yang tidak dapat dijawab hanya dengan pendekatan lama.
Dalam konteks ini, madrasah harus mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Nilai-nilai keislaman, akhlak, dan pengabdian harus tetap menjadi fondasi, sementara penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, literasi digital, bahasa, serta keterampilan hidup perlu diperkuat.
Menjaga tradisi tidak berarti menutup diri dari perubahan. Sebaliknya, tradisi yang kuat seharusnya memberikan landasan bagi lahirnya inovasi yang bermakna. Madrasah NWDI harus mampu melahirkan generasi yang kokoh dalam iman, luas dalam wawasan, matang dalam berpikir, santun dalam bertindak, dan siap menghadapi persaingan zaman.
Kita membutuhkan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi juga manusia yang mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha, membangun teknologi, melakukan penelitian, memimpin masyarakat, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan sosial.
Di sinilah pentingnya memperkuat kualitas guru, tata kelola lembaga pendidikan, sarana pembelajaran, budaya literasi, serta kolaborasi antara madrasah, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Generasi Muda Harus Menjadi Pelaku Perubahan
Salah satu refleksi penting dalam Hultah Madrasah ke-91 ini adalah bagaimana menempatkan generasi muda sebagai bagian strategis dari masa depan Nahdlatul Wathan.
Pemuda bukan sekadar pewaris sejarah, melainkan pelanjut perjuangan. Mereka tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan organisasi dan perayaan keagamaan, tetapi harus mengambil peran nyata dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, kebudayaan, teknologi, dan kepemimpinan publik.
Generasi muda NW harus didorong menjadi kelompok yang produktif, kritis, kreatif, dan berintegritas. Mereka perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan gagasan, mengembangkan kapasitas, membangun jejaring, serta terlibat dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan masa depan organisasi dan masyarakat.
Kaderisasi tidak boleh dimaknai sekadar proses pergantian kepengurusan. Kaderisasi harus menjadi proses menyiapkan manusia yang memiliki kapasitas intelektual, kematangan emosional, keteguhan ideologis, dan tanggung jawab sosial.
Kita juga harus berani mengakui bahwa tantangan generasi muda hari ini semakin kompleks. Persoalan pengangguran, keterbatasan akses pendidikan, tekanan ekonomi, perubahan budaya digital, dan melemahnya ruang dialog membutuhkan pendekatan yang lebih terbuka dan solutif.
Karena itu, Pemuda Nahdlatul Wathan harus mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai perjuangan masa lalu dan aspirasi generasi masa kini. Semangat pengabdian harus diterjemahkan menjadi program yang nyata, terukur, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pemuda tidak boleh hanya menjadi objek pembinaan. Pemuda harus dipercaya menjadi subjek perubahan.
Hultah sebagai Momentum Evaluasi dan Pembaruan
Perayaan Hultah ke-91 hendaknya menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar kepada diri kita sendiri.
Apakah pendidikan di lingkungan NWDI semakin berkualitas? Apakah para guru mendapatkan dukungan yang memadai untuk meningkatkan kompetensinya? Apakah peserta didik memperoleh akses terhadap teknologi dan keterampilan masa depan? Apakah lulusan madrasah memiliki daya saing dan kemandirian ekonomi? Apakah alumni telah memberikan kontribusi optimal bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk keraguan terhadap perjuangan yang telah dilakukan, melainkan wujud tanggung jawab untuk memastikan bahwa perjuangan itu terus berkembang.
Kita perlu membangun budaya evaluasi yang sehat, terbuka terhadap kritik, dan berorientasi pada perbaikan. Sebuah lembaga yang besar bukanlah lembaga yang merasa telah sempurna, melainkan lembaga yang mampu belajar dari pengalaman, memperbaiki kekurangan, dan beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Hultah harus melahirkan agenda pembaruan yang konkret: peningkatan mutu pendidikan, penguatan ekonomi warga, pemberdayaan alumni, perluasan beasiswa, pengembangan kewirausahaan pemuda, serta pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, peringatan Hultah tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga menghasilkan komitmen dan langkah nyata.
Menyatukan Langkah untuk Masa Depan Nahdlatul Wathan
Perjalanan panjang NWDI mengajarkan bahwa kekuatan perjuangan terletak pada keikhlasan, persatuan, dan kesediaan bekerja bersama. Perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika kehidupan, tetapi jangan sampai perbedaan itu melemahkan tujuan besar yang telah diwariskan oleh para pendiri.
Keluarga besar Nahdlatul Wathan perlu terus memperkuat dialog, membangun kolaborasi antargenerasi, dan menempatkan kemaslahatan umat sebagai orientasi utama. Ulama, guru, santri, mahasiswa, pemuda, alumni, dan seluruh warga NW memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi.
Kita tidak boleh membiarkan energi organisasi habis untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak produktif, sementara tantangan pendidikan dan persoalan masyarakat membutuhkan jawaban segera.
Sudah saatnya semangat kebersamaan diwujudkan dalam karya. Sudah saatnya nilai perjuangan diterjemahkan menjadi inovasi. Dan sudah saatnya generasi muda membuktikan bahwa mereka mampu melanjutkan amanah sejarah dengan cara yang relevan, cerdas, dan bertanggung jawab.
Penutup: NWDI adalah Amanah Peradaban
Hultah ke-91 Madrasah NWDI merupakan momentum untuk meneguhkan kembali keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi peradaban. Sembilan puluh satu tahun yang telah dilalui menjadi bukti keteguhan perjuangan, sekaligus pengingat bahwa masa depan tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan kejayaan masa lalu.
Sebagai generasi muda Nahdlatul Wathan, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai perjuangan Maulana Syaikh, memperkuat kualitas pendidikan, membangun kemandirian generasi, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat serta bangsa.
Mari kita jadikan Hultah ke-91 bukan sekadar peringatan bertambahnya usia, melainkan titik tolak untuk memperkuat komitmen terhadap pendidikan, memperluas pengabdian, dan menyiapkan generasi yang mampu menghadapi masa depan.
Sebab, perjuangan yang besar tidak diukur hanya dari lamanya perjalanan, tetapi dari seberapa jauh nilai-nilainya terus hidup dan memberikan manfaat bagi manusia.
Selamat Hultah ke-91 Madrasah NWDI.
Merawat warisan perjuangan, meneguhkan pendidikan, menguatkan persatuan, dan menyiapkan generasi masa depan.
NWDI bukan sekadar sejarah yang kita kenang, melainkan amanah perjuangan yang harus terus kita hidupkan.
Ahad, 11 Oktober 2026
Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani, Lombok Timur.


