Lombok Timur - radarsrlaparang.com || Meski menyandang status terbaik se-NTB dengan skor digitalisasi 98,5 persen, Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Lombok Timur (Lotim) justru mendapat sentilan keras dari Bupati H. Haerul Warisin.
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin saat membuka High Level Meeting TP2DD
Teguran itu dilayangkan Bupati Warisin saat membuka High Level Meeting TP2DD di Rupatama 1 Kantor Bupati, Selasa (6/10/2026).
Bupati Warisin menilai predikat cukup baik yang diraih pada 2025 tidak boleh membuat tim berpuas diri, karena daerah lain terus berpacu kencang.
Bupati Warisin menyoroti satu titik lemah yang masih menganga, yaitu realisasi transaksi digital yang baru di angka 85 persen. Di balik tingginya indeks, masih ada kebocoran pendapatan yang harus ditekan.
"Jangan hanya kejar indeks. Bangun ekosistem digital yang matang dan terintegrasi," tegas Bupati Warisin.
Ia memerintahkan seluruh OPD penghasil pendapatan untuk memastikan setiap titik penerimaan uang memiliki kanal pembayaran digital yang mudah digunakan masyarakat. Setiap transaksi, kata dia, wajib tercatat dan bisa direkonsiliasi secara cepat dan akurat.
Menurut Bupati Warisin, elektronifikasi bukan sekadar ganti cara bayar dari tunai ke nontunai.
"Elektronifikasi bukan hanya untuk mengubah cara membayar, tetapi juga untuk memperkuat pengawasan dan optimalisasi PAD," tekannya.
Data digital, lanjutnya, harus menjadi alat untuk membaca kepatuhan wajib pajak, mengendus potensi yang belum digarap, hingga memangkas kebocoran.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Ignatius Adhi Nugroho, membenarkan Lotim adalah yang terbaik di NTB. Namun ia sepakat masih ada pekerjaan rumah besar di aspek realisasi.
Ia merekomendasikan penguatan berbasis data dengan memantau capaian transaksi per kanal dan per OPD, optimalisasi layanan pajak dan retribusi, serta memastikan kanal pembayaran tampil jelas di loket hingga media sosial.
Forum yang menghadirkan akademisi dan praktisi keuangan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial, tetapi mampu memetakan hambatan jaringan dan literasi digital yang masih menjadi kendala di lapangan. (RS)

