Daftar Isi [Tampil]

Zuhdi Maulidi, S.Kel diiringi gema selawat dan lagu kampanye sepanjang jalan raya berjalan menuju sekretariat Pilkades Labu Pandan untuk mendaftar sebagai calon Kepala Desa.
Lombok Timur - radarselaparang.com || Suasana berbeda menyelimuti pendaftaran Pilkades Labuhan Pandan. Jika biasanya diiringi musik keras, Pendaftaran Zuhdi Maulidi, S.Kel justru diiringi gema selawat dan lagu kampanye sepanjang jalan raya. Rabu (21/10/2026)

Berbekal restu orang tua dan doa bersama, Zuhdi datang ke sekretariat Pilkades desa Labu Pandan bersama istri tercinta dan ratusan relawan yang setia mengiringi sambil melambaikan foto sang calon. Panitia Pilkades Labuhan Pandan sudah siap menyambut karena pada hari yang sama ada tiga bakal calon yang mendaftar.

Di sekretariat, hadir Pj Kepala Desa, Ketua BPD Labuhan Pandan Hasbullah dan anggota, seluruh panitia, serta Kapolsek Sambelia beserta jajaran.

Sebelum berangkat, Zuhdi terlebih dulu menyampaikan pesan berharga dari ibunda di hadapan relawannya.

"Jangan lupa berdoa sebelum berangkat. Ingat, soal menang atau kalah itu sepenuhnya ketentuan Yang Maha Kuasa," ujar Zuhdi menirukan pesan ibunda.

Ia juga menyampaikan terima kasih penuh haru kepada relawan yang sudah meluangkan waktu sejak pagi.

"Kehadiran kalian adalah penyemangat terbesar bagi kami," katanya.

Doa dan zikir dipimpin Ustaz Jayadi. Lantunan doa mengiringi langkah mereka menuju kantor desa. Setelah berkas diterima dan dicek panitia, berkas dinyatakan lengkap dan dilanjutkan penandatanganan disaksikan para pendukung.

Zuhdi Maulidi, S.Kel didampingi istri bersama ratusan pendukung 
Menariknya, di tengah kontestasi Pilkades, isu kesukuan sempat mengemuka. Zuhdi menjawabnya dengan tenang. Ia menegaskan warga Labuhan Pandan kini semakin cerdas dan tidak lagi memilih pemimpin karena faktor suku, keluarga, atau kedekatan semata.

"Warga kini sadar, memilih pemimpin bukan soal keluarga, bukan soal tetangga, melainkan siapa yang punya ide, kemampuan, dan niat tulus membangun desa," ujarnya.

Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah itu mengaku sudah 20 tahun menetap di Labuhan Pandan. Ia datang saat belum ada apa-apa dan berikrar hidup dan mati di tanah ini.

"Jadi bukan soal orang mana. Kalau kita tidak mau dipimpin orang dari luar daerah, bukankah Presiden kita pun dari daerah lain? Yang penting kemampuannya, dedikasinya, dan hasil kerjanya," tegasnya.

Menurutnya, kampanye berbasis kesukuan tidak dibenarkan dan tidak akan mempan. Ia mencontohkan investor besar yang diharapkan warga pun banyak datang dari luar seperti Jawa, Surabaya, dan Jakarta. Yang dibutuhkan warga adalah lapangan pekerjaan dan kesejahteraan.

"Saya pernah bertanya kepada warga yang tidak mau memilih saya, coba berikan satu alasan masuk akal sehingga saya malu dan mundur. Ternyata tidak ada alasan yang bisa disampaikan, hanya perasaan yang ditanamkan," ungkapnya.

Lalu mengapa ia maju meski usahanya sudah mapan?

"Bukan ambisi kekuasaan, tapi kepercayaan masyarakat. Ketika dukungan datang sendiri dari berbagai dusun dan latar belakang, saya merasa terpanggil. Kalau kepercayaan ini saya sia-siakan, saya berdosa dan mengecewakan banyak orang," jawabnya.

Sosok Zuhdi memang bukan orang baru. Di pesisir timur Lombok itu, ia dikenal dekat dengan warga. Di tepi pantai ia duduk bersama nelayan, di ladang menyapa petani. Kiprahnya pun nyata, merintis peternakan ayam petelur 2.000 ekor sejak 2024, menjadi penyedia layanan internet pertama di Kecamatan Sambelia, berperan dalam pelaksanaan UNBK pertama di Sambelia saat internet belum merata, hingga menjadi manajer tim sepak bola lokal.

Dua puluh tahun hidup bersama enam dusun di Labuhan Pandan, yakni Labuhan Pandan Tengah, Labuhan Pandan Induk, Bagik Elok, Veteran, Tarum, dan Pulut, membuatnya dianggap sebagai keluarga sendiri.

"Sebuah perjalanan bukan hanya tentang dari mana kita berasal, tetapi tentang tempat yang kita pilih untuk kita abdikan," pungkasnya. (RS/acip)