LOMBOK TIMUR - radarselaparang.com || Di Kampung Turingan, Kelurahan Tanjung, seorang perempuan masih terbaring dengan kaki patah. Di samping ranjangnya, tidak ada lagi sosok suami yang biasanya menemaninya. Suami itu telah pergi, direnggut kecelakaan lalu lintas yang juga menghancurkan kakinya.
Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Lombok Timur, Dr H M Hamidi, S.T., M.Pd., saat menyerahkan bantuan tunai
Di tempat lain, di Dusun Keru, Desa Penede Gandor, Kecamatan Labuhan Haji, sebuah rumah masih dipenuhi isak tangis. Ibu Hilmiati telah pergi setelah berjuang melawan komplikasi penyakit. Yang tersisa hanya kenangan, foto, dan duka yang belum sempat kering.
Dua keluarga, dua musibah, satu hari yang sama.
Dan di hari itulah BAZNAS Kabupaten Lombok Timur memilih untuk hadir, bukan sekadar mengirim bantuan, tapi datang langsung, menatap mata mereka, dan menyampaikan belasungkawa.
Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Lombok Timur, Dr H M Hamidi, S.T., M.Pd., menyerahkan bantuan tunai itu satu per satu.
Kepada Ibu Suhaini, bantuan itu adalah penopang di tengah perawatan yang masih panjang. Kaki patah bisa sembuh dengan obat dan waktu, tapi hati yang patah karena kehilangan suami, hanya bisa diobati dengan doa dan kepedulian.
Kepada keluarga almarhumah Ibu Hilmiati, bantuan itu diterima oleh Ibu Subaedah. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan terima kasih. Di saat semua orang perlahan kembali ke kesibukannya, masih ada yang datang mengingat duka mereka.
Atas nama lembaga, Dr H M Hamidi menyampaikan belasungkawa mendalam kepada kedua keluarga. Ia mendoakan agar almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan Ibu Suhaini segera diberi kesembuhan serta kekuatan untuk bangkit kembali.Mungkin bantuan itu tidak akan mengembalikan suami Ibu Suhaini. Tidak akan menghidupkan kembali Ibu Hilmiati. Tapi bantuan itu menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam: bahwa zakat, infak, dan sedekah dari para muzaki, munfik, dan donatur tidak berhenti di atas kertas laporan.
Ia berjalan, mengetuk pintu rumah duka, duduk bersama keluarga yang berduka, dan berkata pelan: kalian tidak sendirian.
Dan bagi dua keluarga itu, hari ini, kalimat itu terasa lebih berharga dari apapun.


